Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Risiko Kampanye Asimetris Berkepanjangan
Dampak awal ke pasar relatif terbatas. Kontrak berjangka suku bunga masih menunjukkan ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan pada pertemuan The Fed 28–29 Juli.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat turun reaksi umum saat krisis global karena investor mencari aset aman.
Namun pada Senin, imbal hasil kembali naik, mencerminkan kekhawatiran inflasi dan risiko global.
Dolar AS juga menguat terhadap mata uang utama dunia. Indeks saham utama AS bergerak campuran, dengan Dow Jones dan S&P 500 sedikit melemah.
Analis Citi menjelaskan, perkembangan geopolitik kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah rencana suku bunga The Fed.
Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Serangan Iran Terhadap Kedutaan AS di Riyadh
Risiko inflasi yang sedikit meningkat dinilai akan diimbangi oleh kondisi keuangan yang kurang mendukung dan fokus pada data domestik.
Mereka memperkirakan laporan tenaga kerja AS pekan ini akan menunjukkan penambahan 55.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran 4,4%.
Namun mantan Ketua The Fed Janet Yellen, seperti dilaporkan Bloomberg, memperingatkan perang berisiko memicu inflasi lebih tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan, sehingga membuat The Fed semakin berhati-hati untuk memangkas suku bunga.
Christopher Hodge, kepala ekonom AS di Natixis CIB Americas menyebut, risiko ekstrem meningkat.
Dalam skenario terbaik, rezim Iran yang tersisa memiliki kemampuan militer terbatas sehingga dampak harga minyak cepat mereda dan gangguan ekonomi minimal.
Sebaliknya, dalam skenario terburuk, konflik meluas secara regional, mengganggu jalur perdagangan dan rantai pasok global di luar sektor energi.
Harga minyak bisa bertahan di atas US$120 per barel, jalur pelayaran terganggu, biaya asuransi melonjak, dan jaringan produksi global terhambat.
Dalam kondisi itu, pertumbuhan AS berpotensi negatif, pengangguran naik, defisit melebar, dan The Fed terpaksa memangkas suku bunga lebih cepat untuk mencegah resesi.
Baca Juga: Harga Bensin AS Tembus US$3 per Galon, Konflik Iran Uji Elektabilitas Trump
James Stavridis dan Jeff Currie dari Carlyle memperkirakan peluang keberhasilan Trump mengganti rezim Iran hanya sekitar 30%.
Mereka melihat probabilitas 70% atau lebih untuk kampanye asimetris berkepanjangan, termasuk serangan siber, terorisme, dan penggunaan pasukan proksi yang dapat meluas hingga Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC.
Drone Iran dilaporkan telah menyerang fasilitas gas alam di Qatar, memaksa penghentian produksi LNG dari fasilitas yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Hal ini menunjukkan konflik berpotensi melampaui titik-titik kritis tradisional dan memperluas dampaknya ke rantai energi global.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, arah konflik Iran kini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan apakah ketahanan ekonomi AS tetap terjaga atau justru goyah di tengah tekanan geopolitik global yang meningkat.













