kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)


Selasa, 03 Maret 2026 / 22:52 WIB
Perang Iran Jadi Ujian Baru Ketahanan Ekonomi Amerika Serikat (AS)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang selama setahun terakhir mampu bertahan dari guncangan perdagangan, imigrasi, dan berbagai tekanan lain kini menghadapi ujian baru.

Keputusan Presiden Donald Trump melancarkan serangan terbuka tanpa batas waktu terhadap Iran, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Islamis yang telah lama berkuasa di negara itu, meningkatkan ketidakpastian global.

Serangan balasan mulai terjadi di berbagai wilayah Timur Tengah. Trump menyebut konflik ini bisa berlangsung setidaknya beberapa pekan.

Baca Juga: Indeks Nikkei Anjlok 3%, Seiring Meluasnya Konflik di Timur Tengah

Melansir Reuters Selasa (3/3/2026), para analis kini mencermati berbagai kemungkinan dampak, mulai dari lonjakan harga minyak hingga gangguan jalur pelayaran global.

Harga minyak sempat melonjak dari kisaran US$70 menjadi hampir US$80 per barel pada akhir pekan sebelum kembali sedikit melemah.

Aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital distribusi energi dunia mulai terganggu.

Meski AS relatif lebih terlindungi dari guncangan energi dibanding banyak negara maju lain berkat produksi minyak dan gas domestik, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi berpotensi kembali menekan prospek pertumbuhan yang sebelumnya cukup optimistis untuk tahun ini.

Survei terbaru Conference Board menunjukkan kepercayaan CEO terhadap prospek ekonomi AS dan sektor masing-masing meningkat.

Namun hampir 60% responden menilai ketegangan geopolitik sebagai risiko besar yang dapat mengganggu stabilitas.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “kuat”, namun penilaian itu kini diuji oleh konflik tak terduga di kawasan produsen minyak utama dunia.

Baca Juga: Pasokan Minyak Ketat, Kilang Minyak China ZPC Pangkas Produksi

Joseph Lupton, ekonom JPMorgan menilai, pemulihan yang mulai terlihat di awal tahun kini berada dalam risiko.

“Salah satu pilar proyeksi 2026 kami adalah memudarnya kehati-hatian terhadap kebijakan AS. Data awal tahun menunjukkan bisnis mulai kembali merekrut dan meningkatkan belanja modal non-teknologi. Pemulihan awal ini kini terancam,” tulisnya.

Menurutnya, perang militer yang terjadi bersamaan dengan “perang dagang” AS dapat kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas global.

Dampak terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) akan sangat bergantung pada sejauh mana konflik mendorong kenaikan harga minyak dan apakah konflik meluas secara regional atau berubah menjadi konflik internal di Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara.

Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 memberikan preseden serupa. Saat itu, respons awal bank sentral AS cenderung dovish sebelum akhirnya kembali agresif menaikkan suku bunga akibat lonjakan inflasi.

Tim Duy, kepala ekonom AS di SGH Macro Advisors, menyebut konflik Iran sebagai “wild card”. Menurutnya, pasar bisa cepat kehilangan perhatian jika konflik berubah menjadi persoalan internal Iran.

Namun Presiden dan CEO SGH Sassan Ghahramani memperingatkan, kemungkinan perang saudara di Iran atau eskalasi taktis yang menyasar pusat-pusat sipil untuk menekan ekonomi global.

Baca Juga: Perang Iran Masuk Hari Keempat, Pasar Global Tertekan dan Harga Energi Melonjak

Risiko Kampanye Asimetris Berkepanjangan

Dampak awal ke pasar relatif terbatas. Kontrak berjangka suku bunga masih menunjukkan ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan pada pertemuan The Fed 28–29 Juli.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat turun reaksi umum saat krisis global karena investor mencari aset aman.

Namun pada Senin, imbal hasil kembali naik, mencerminkan kekhawatiran inflasi dan risiko global.

Dolar AS juga menguat terhadap mata uang utama dunia. Indeks saham utama AS bergerak campuran, dengan Dow Jones dan S&P 500 sedikit melemah.

Analis Citi menjelaskan, perkembangan geopolitik kemungkinan tidak akan secara signifikan mengubah rencana suku bunga The Fed.

Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Serangan Iran Terhadap Kedutaan AS di Riyadh

Risiko inflasi yang sedikit meningkat dinilai akan diimbangi oleh kondisi keuangan yang kurang mendukung dan fokus pada data domestik.

Mereka memperkirakan laporan tenaga kerja AS pekan ini akan menunjukkan penambahan 55.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran 4,4%.

Namun mantan Ketua The Fed Janet Yellen, seperti dilaporkan Bloomberg, memperingatkan perang berisiko memicu inflasi lebih tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan, sehingga membuat The Fed semakin berhati-hati untuk memangkas suku bunga.

Christopher Hodge, kepala ekonom AS di Natixis CIB Americas menyebut, risiko ekstrem meningkat.

Dalam skenario terbaik, rezim Iran yang tersisa memiliki kemampuan militer terbatas sehingga dampak harga minyak cepat mereda dan gangguan ekonomi minimal.

Sebaliknya, dalam skenario terburuk, konflik meluas secara regional, mengganggu jalur perdagangan dan rantai pasok global di luar sektor energi.

Harga minyak bisa bertahan di atas US$120 per barel, jalur pelayaran terganggu, biaya asuransi melonjak, dan jaringan produksi global terhambat.

Dalam kondisi itu, pertumbuhan AS berpotensi negatif, pengangguran naik, defisit melebar, dan The Fed terpaksa memangkas suku bunga lebih cepat untuk mencegah resesi.

Baca Juga: Harga Bensin AS Tembus US$3 per Galon, Konflik Iran Uji Elektabilitas Trump

James Stavridis dan Jeff Currie dari Carlyle memperkirakan peluang keberhasilan Trump mengganti rezim Iran hanya sekitar 30%.

Mereka melihat probabilitas 70% atau lebih untuk kampanye asimetris berkepanjangan, termasuk serangan siber, terorisme, dan penggunaan pasukan proksi yang dapat meluas hingga Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC.

Drone Iran dilaporkan telah menyerang fasilitas gas alam di Qatar, memaksa penghentian produksi LNG dari fasilitas yang bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Hal ini menunjukkan konflik berpotensi melampaui titik-titik kritis tradisional dan memperluas dampaknya ke rantai energi global.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, arah konflik Iran kini menjadi faktor kunci yang dapat menentukan apakah ketahanan ekonomi AS tetap terjaga atau justru goyah di tengah tekanan geopolitik global yang meningkat.




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×