Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. International Monetary Fund (IMF) kembali menyoroti arah kebijakan ekonomi China. Dalam laporan tinjauan tahunannya, IMF menilai strategi pertumbuhan Negeri Tirai Bambu masih terlalu bertumpu pada ekspor dan industri, sehingga memicu ketidakseimbangan di dalam negeri sekaligus tekanan bagi mitra dagang.
IMF secara tegas meminta Beijing menggeser model pertumbuhan menuju konsumsi domestik. “Transisi ke model pertumbuhan berbasis konsumsi harus menjadi prioritas utama,” tulis dewan eksekutif IMF seperti yang dilansir Bloomberg (19/2)
Sorotan utama IMF tertuju pada lonjakan surplus transaksi berjalan China yang dinilai menciptakan dampak limpahan yang merugikan bagi negara lain. Untuk 2025, IMF memperkirakan surplus mencapai 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), lebih dari dua kali lipat proyeksi sebelumnya. Bahkan, perhitungan awal Bloomberg menunjukkan surplus bisa menembus 3,7% dari PDB, ditopang rekor kelebihan ekspor barang hingga US$ 1,2 triliun.
IMF juga menilai pelemahan riil renminbi (RMB) yang disesuaikan inflasi turut mendongkrak daya saing ekspor China. Staf IMF memperkirakan yuan berada sekitar 16% di bawah nilai wajarnya. Artinya, produk China mendapat diskon kurs di pasar global, sementara impor tertahan akibat lemahnya permintaan domestik.
Pandangan ini sejalan dengan analisis ekonom Goldman Sachs yang sebelumnya memperingatkan ekspansi kapasitas ekspor China berpotensi menjadi beban bersih bagi ekonomi global.
Baca Juga: IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026, Capai 3,3%
Bertolak belakang
Namun Beijing menolak keras kritik tersebut. Perwakilan China di dewan IMF Zhang Zhengxin mengatakan, pertumbuhan ekspor 2025 terutama didorong daya saing dan inovasi, bukan manipulasi kurs. Ia juga menilai estimasi surplus IMF terlalu besar.
Meski demikian, tekanan terhadap China diperkirakan menguat menjelang sidang tahunan National People's Congress yang akan menetapkan target ekonomi 2026. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi China melambat dari 5% pada 2025 , kemudian menjadi 4,5% pada 2026. Banyak ekonom memproyeksikan target resmi tahun depan akan dipatok di kisaran 4,5%–5%.
Tak hanya soal eksternal, IMF juga menyoroti masalah domestik yang kian berat. Hampir sepertiga pertumbuhan 2025 berasal dari ekspor neto ketergantungan yang dinilai memicu kekhawatiran kelebihan kapasitas dan risiko aksi balasan dagang dari mitra. Di sisi lain, tekanan deflasi belum mereda, diperparah koreksi panjang sektor properti dan lemahnya konsumsi rumah tangga.
IMF menyarankan kombinasi stimulus fiskal yang lebih ekspansif dan reformasi struktural. Pendanaan pemerintah pusat untuk menyelesaikan proyek properti mangkrak dinilai krusial guna memulihkan kepercayaan konsumen.
Namun ruang fiskal kian sempit. IMF memperkirakan rasio utang pemerintah China melonjak hampir 127% dari PDB pada 2025 dan berpotensi melampaui 135% pada 2026. Beban utang pemerintah daerah juga membatasi kemampuan mendorong permintaan.
IMF bahkan menghitung biaya kebijakan industri China mencapai sekitar 4% dari PDB pada 2023 jauh di atas bantuan negara Uni Eropa yang sekitar 1,5%. Pengurangan kebijakan industri yang dinilai tak beralasan hingga 2% dari PDB disebut bisa memperbaiki produktivitas dan efisiensi alokasi sumber daya.
Baca Juga: IMF: El Salvador Sedang Negosiasi Jual Dompet Bitcoin Negara Chivo













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)