kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.501.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.700   0,00   0,00%
  • IDX 8.647   2,68   0,03%
  • KOMPAS100 1.194   -2,61   -0,22%
  • LQ45 847   -5,47   -0,64%
  • ISSI 309   -0,04   -0,01%
  • IDX30 437   -2,15   -0,49%
  • IDXHIDIV20 510   -4,16   -0,81%
  • IDX80 133   -0,62   -0,47%
  • IDXV30 139   0,36   0,26%
  • IDXQ30 140   -0,77   -0,54%

Peta Pentagon Bongkar Jangkauan Rudal China, Taiwan hingga AS Masuk Radius Serangan


Kamis, 01 Januari 2026 / 06:02 WIB
Peta Pentagon Bongkar Jangkauan Rudal China, Taiwan hingga AS Masuk Radius Serangan
ILUSTRASI. Peta terbaru Pentagon menunjukkan sejauh mana jangkauan kekuatan rudal China yang terus berkembang. ( REUTERS/ALEXANDER DRAGO)


Sumber: Business Insider | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Peta terbaru Pentagon menunjukkan sejauh mana jangkauan kekuatan rudal China yang terus berkembang.

Melansir Business Insider, cabang rudal China, yang dikenal sebagai People’s Liberation Army Rocket Force (PLARF), mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring Beijing membangun platform baru untuk serangan konvensional maupun nuklir. Kapabilitas ini dinilai mengancam pasukan Amerika Serikat, sekutu, dan mitranya.

Laporan terbaru Pentagon tentang militer China memberikan perkiraan jumlah peluncur dan rudal dalam persenjataan China, termasuk rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missiles/ICBM) yang menjadi bagian penting dari sistem pencegah nuklir negara tersebut.

ICBM China mencakup rudal seperti DF-5 dan DF-41. Pentagon memperkirakan China memiliki sekitar 550 peluncur ICBM dan 400 rudal dengan jangkauan lebih dari 5.500 kilometer, ambang batas klasifikasi ICBM.

Untuk rudal balistik jarak menengah (medium-range ballistic missiles/MRBM) seperti DF-21 dan DF-17 hipersonik, Pentagon menilai China memiliki sekitar 300 peluncur untuk 1.300 rudal dengan jangkauan antara 1.000 hingga 3.000 kilometer.

Laporan tersebut juga mencatat peningkatan jumlah peluncur dan rudal pada beberapa sistem utama. Jumlah peluncur rudal balistik jarak menengah (IRBM) seperti DF-26 meningkat dari 250 peluncur pada laporan tahun lalu menjadi 300 peluncur tahun ini, sementara total jumlah IRBM naik dari 500 menjadi 550 unit.

Baca Juga: Xi Jinping Pamer Kemajuan AI, China Tegaskan Target Ambil Alih Taiwan

Data ini menunjukkan besarnya investasi Beijing dalam membangun persenjataan rudal yang kuat dan beragam. Pentagon menyoroti bahwa PLARF dapat memainkan peran penting dalam kemungkinan invasi China ke Taiwan atau konflik regional lainnya.

Menurut laporan tersebut, pasukan roket China “siap melancarkan serangan rudal terhadap target bernilai tinggi, termasuk fasilitas komando dan kendali (C2), pangkalan udara, serta situs radar Taiwan,” sekaligus menghalangi atau menunda keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya dalam membantu Taiwan.

Pentagon juga menyebut PLARF terus berlatih simulasi serangan dalam berbagai latihan militer, termasuk latihan tahun 2024 yang mensimulasikan invasi atau blokade terhadap Taiwan.

Salah satu peta dalam laporan memperlihatkan perkiraan jangkauan rudal China yang relevan dalam konflik di sekitar Taiwan, termasuk rudal darat dan laut untuk menembak jatuh pesawat musuh, rudal jelajah antikapal dari kapal perang China, serta rudal balistik jarak dekat dan dekat-menengah berbasis darat.

Baca Juga: Trump Media Luncurkan Token Digital Baru bagi Pemegang Sahamnya

Peta lainnya menunjukkan jangkauan rudal serangan konvensional China seperti DF-17 dan DF-21, DF-26, serta DF-27 yang baru dikerahkan. DF-27, seperti DF-26 dan sebagian DF-21, memiliki kemampuan antikapal selain serangan darat.

Banyak sistem ini mampu menjangkau rantai pulau pertama yang mencakup Jepang, Taiwan, dan Filipina. Rudal jarak lebih jauh bahkan dapat mencapai rantai pulau kedua dan wilayah di luarnya.

DF-26 menjadi perhatian serius bagi perencana militer AS. Rudal yang dijuluki “Guam Express” ini dapat dipersenjatai hulu ledak konvensional maupun nuklir dan mampu menjangkau instalasi militer AS di Guam. Rudal ini juga dapat menargetkan kapal induk AS dan kapal permukaan lainnya.

Pesawat pengebom seperti H-6 yang membawa rudal jelajah CJ-20 bahkan berpotensi mengancam wilayah Alaska. Sementara itu, ICBM China memiliki jangkauan yang jauh lebih luas. DF-27, misalnya, mampu menjangkau sebagian wilayah daratan Amerika Serikat.

Laporan Departemen Pertahanan AS juga menyoroti opsi serangan nuklir China, termasuk ICBM berbasis darat dan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

China tercatat melakukan uji coba ICBM, yakni DF-31B, pada September 2024 dengan menembakkan rudal tersebut dari Pulau Hainan ke Samudra Pasifik. Uji coba ini merupakan yang pertama di luar wilayah China sejak 1980-an dan bertujuan memverifikasi kinerja ICBM. Pentagon menduga uji coba semacam ini akan semakin rutin.

Pada parade militer di Beijing tahun ini, China juga memamerkan ICBM baru yang sebelumnya belum pernah terlihat publik, termasuk DF-61 dan DF-31BJ. Namun, senjata-senjata ini belum masuk dalam penilaian Pentagon.

China terus memperkuat jumlah hulu ledak nuklirnya, yang diperkirakan telah melampaui 600 hulu ledak. Meski laju produksinya pada 2024 melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya, Pentagon menilai China tetap berada di jalur menuju 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030, meski jumlah tersebut masih jauh di bawah persenjataan AS dan Rusia.

Peta Pentagon juga menunjukkan bahwa beberapa ICBM China (DF-5, DF-41, dan DF-31) memiliki jangkauan hingga ke daratan utama Amerika Serikat. Sementara itu, rudal balistik JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam mampu menjangkau sebagian besar wilayah AS dari perairan dekat China.

Tonton: Putin Sebut Rumahnya Dibombardir Drone Ukraina, Kyiv Membantah

Meski kemampuan ini terus berkembang, Pentagon menilai masih ada pertanyaan mengenai kualitas senjata dan tingkat pelatihan militer China dibandingkan dengan AS. Selain itu, China juga masih menghadapi dampak kampanye antikorupsi besar-besaran di tubuh militernya, yang secara khusus menyasar pejabat PLARF.

Kampanye tersebut berpotensi melemahkan efektivitas jika didorong agenda politik, namun juga bisa membawa perbaikan jangka panjang jika benar-benar menyasar masalah internal. Hingga kini, dampak akhirnya masih belum jelas.

Kesimpulan

Laporan Pentagon menunjukkan bahwa China secara sistematis memperluas dan memodernisasi kekuatan rudalnya, baik konvensional maupun nuklir, dengan jangkauan yang mampu mengancam Taiwan, kawasan Indo-Pasifik, hingga daratan Amerika Serikat. Pasukan Roket China diposisikan sebagai elemen kunci dalam skenario konflik regional, khususnya terkait Taiwan. Meski demikian, efektivitas jangka panjang kekuatan ini masih dibayangi oleh faktor kualitas senjata, kesiapan personel, dan dampak internal kampanye antikorupsi militer.

Selanjutnya: Kumpulan Link Template Kalendar 2026 Paling Baru dan Gratis Pakai

Menarik Dibaca: Kumpulan Link Template Kalendar 2026 Paling Baru dan Gratis Pakai




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×