Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Arus dana masuk ke ETF berbasis emas turut menopang harga. ETF emas, yang menyimpan emas batangan untuk investor, menyumbang porsi besar dari permintaan investasi global.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini ikut mendorong minat terhadap emas.
“Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga ada biaya peluang saat memegangnya. Namun ketika suku bunga turun, biaya peluang itu ikut menurun. Jika The Fed terus memangkas suku bunga pada 2026, permintaan emas berpotensi meningkat,” kata Chris Mancini, co-portfolio manager Gabelli Gold Fund.
Data World Gold Council mencatat, ETF emas membukukan arus dana masuk tertinggi sepanjang 2025, dipimpin oleh dana asal Amerika Utara. Total arus dana mencapai US$ 89 miliar, dengan volume setara 801 ton, tertinggi sejak rekor pada 2020.
Permintaan emas untuk perhiasan memang melemah akibat harga yang tinggi. Namun, penurunan ini sebagian tertutup oleh kuatnya permintaan emas batangan kecil dan koin, terutama di pasar utama seperti India.
Pembelian emas batangan dan koin juga terlihat di Eropa, meski sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung.
Bagi investor ritel, daya tarik emas terletak pada kesederhanaannya, ujar Frederic Panizzutti, global head of sales Numismatica Genevensis.
“Investor tidak perlu menganalisis laporan keuangan, menilai risiko kredit, atau khawatir soal risiko negara. Satu-satunya risiko emas fisik hanyalah arah harga,” ujarnya. “Di tengah geopolitik dan geoekonomi yang makin rumit, kesederhanaan itu justru makin menarik.”
Tonton: Raksasa Properti Dubai Siap Bangun Mal hingga Kantor di IKN, Investasi Capai Rp 4 Triliun
Bagaimana harga emas selanjutnya?
Meski tren masih positif, analis mengingatkan sejumlah faktor bisa memicu koreksi harga, seperti perubahan ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, tekanan margin di pasar saham, atau meredanya kekhawatiran soal independensi The Fed.
Namun, mayoritas analis menilai koreksi harga emas kemungkinan bersifat sementara dan justru menjadi peluang beli.
“Penurunan harga emas yang signifikan dan berkelanjutan hanya akan terjadi jika kondisi ekonomi dan geopolitik kembali stabil, dan saat ini skenario itu tampaknya masih jauh,” tutup Newman.













