Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India bersiap melakukan langkah paling agresif dalam sejarah kebijakan proteksi otomotifnya. Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi dikabarkan akan memangkas tarif impor mobil dari Uni Eropa dari level setinggi 110% menjadi 40%. Kebijakan ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang bebas (free trade agreement/FTA) antara India dan Uni Eropa yang pengumumannya diperkirakan tinggal menunggu waktu.
Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi titik balik bagi pasar otomotif India yang selama ini dikenal sangat tertutup. Selama bertahun-tahun, tarif impor mobil di negara tersebut dipertahankan di kisaran 70% hingga 110%.
Dalam laporan Reuters (26/1), sumber yang mengetahui jalannya negosiasi, pemangkasan tarif akan langsung berlaku untuk mobil impor dari Uni Eropa dengan harga di atas 15.000 euro. Jumlahnya dibatasi sekitar 200.000 unit per tahun, khusus untuk kendaraan bermesin pembakaran internal. Bahkan, tarif ini direncanakan akan diturunkan lagi secara bertahap hingga hanya 10%.
Langkah ini jelas mengirim sinyal kuat India mulai membuka pasar otomotifnya yang selama ini sangat protektif.
Padahal, India merupakan pasar mobil terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan China. Namun, besarnya pasar ini belum sepenuhnya bisa dinikmati produsen global karena tembok tarif yang tinggi. Selama ini, pasar domestik lebih banyak dikuasai Suzuki dari Jepang serta merek lokal Mahindra dan Tata yang secara bersama menguasai sekitar dua pertiga pangsa pasar.
Sementara itu, produsen Eropa seperti Volkswagen, Renault, Stellantis, Mercedes-Benz, dan BMW masih harus puas dengan pangsa pasar di bawah 4% dari total penjualan mobil India yang mencapai 4,4 juta unit per tahun.
Baca Juga: Korea Selatan Pulangkan 73 Terduga Pelaku Penipuan Online (Scam) dari Kamboja
Penurunan tarif ini berpotensi mengubah peta persaingan. Dengan bea masuk yang lebih rendah, produsen Eropa bisa menjual mobil impor dengan harga lebih kompetitif sekaligus menguji pasar dengan lebih banyak model sebelum memutuskan menambah kapasitas produksi lokal.
Namun, liberalisasi ini tetap dilakukan dengan rem tangan ditarik setengah. Pemerintah India memutuskan untuk mengecualikan kendaraan listrik berbasis baterai (EV) dari skema penurunan tarif selama lima tahun pertama. Tujuannya untuk melindungi investasi pemain domestik seperti Mahindra & Mahindra dan Tata Motors di sektor EV yang masih dalam tahap awal pengembangan. Setelah lima tahun, barulah EV akan masuk dalam skema penurunan tarif yang sama.
Dari sisi makro, kesepakatan dagang India-Uni Eropa ini tak sekadar soal mobil. Perjanjian yang bahkan dijuluki sebagai “mother of all deals” ini diharapkan bisa mendorong perdagangan bilateral secara keseluruhan, termasuk mendongkrak ekspor India seperti tekstil dan perhiasan, yang belakangan tertekan akibat tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Bagi produsen Eropa, momentum ini datang di saat yang tepat. Pasar otomotif Eropa kian tertekan oleh gempuran produsen China, memaksa mereka mencari sumber pertumbuhan baru. Renault, misalnya, tengah menyiapkan strategi comeback di India. Volkswagen juga dikabarkan sedang memfinalisasi fase investasi berikutnya melalui merek Skoda.
Dengan proyeksi pasar mobil India yang bisa menembus 6 juta unit per tahun pada 2030, pertaruhan kini ada di tangan New Delhi, sejauh mana India benar-benar siap mengorbankan proteksi demi menarik investasi dan mempercepat transformasi industrinya.
Baca Juga: Badai Musim Dingin Lumpuhkan Transportasi AS, Ribuan Penerbangan Dibatalkan













