Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Wall Street dikenal optimistis, dan kali ini pun tidak berbeda. Para analis masih bullish terhadap emas, dengan alasan klasik: defisit anggaran besar, ketegangan global, dan dolar AS yang melemah.
Menariknya, sebagian besar proyeksi harga berada dalam kisaran yang relatif sempit. Namun ada juga yang jauh lebih agresif.
Jeurg Kiener dari Swiss Asia Capital yang berbasis di Singapura, misalnya, memperkirakan harga emas bisa menembus US$ 8.000 per ounce pada 2028.
Yardeni Research dari New York melihat emas bisa menyentuh US$ 6.000 tahun ini. Bahkan pendirinya, Ed Yardeni, dalam catatan tertanggal 23 Desember 2025, menyebut level US$ 10.000 per ounce sebagai kemungkinan pada 2030.
Penyebabnya: defisit pemerintah global yang masif, ketegangan internasional yang berkepanjangan, serta kebijakan bank sentral AS yang cenderung inflasioner.
Proyeksi harga emas 2026 menurut para analis
(Perubahan dibandingkan penutupan akhir 2025 di US$ 4.341,10 per troy ounce)
- Jefferies Group: US$ 6.600 (+52,04%)
- Yardeni Group: US$ 6.000 (+38,21%)
- UBS: US$ 5.400 (+24,39%)
- JPMorgan Chase: US$ 5.055 (+16,45%)
- Charles Schwab: US$ 5.055 (+16,45%)
- Bank of America: US$ 5.000 (+15,18%)
- ANZ Bank (Australia): US$ 5.000 (+15,18%)
- Deutsche Bank: US$ 4.950 (+14,03%)
- Goldman Sachs: US$ 4.900 (+12,57%)
- Morgan Stanley: US$ 4.800 (+10,57%)
- Standard Chartered Bank (UK): US$ 4.800 (+10,57%)
- Wells Fargo: US$ 4.500–US$ 4.700 (+3,65% hingga 8,26%)
Tonton: Hashim Djojohadikusumo Soroti Peran Pangan dan Perumahan dalam Pertumbuhan 2026
Catatan:
Rata-rata konservatif: sekitar US$ 4.600 (naik 5,3%)
Rata-rata keseluruhan: US$ 5.180 (naik 19,3%)
Sumber: riset berbagai firma Wall Street












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
