kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.970   -23,00   -0,14%
  • IDX 9.137   3,51   0,04%
  • KOMPAS100 1.258   -5,43   -0,43%
  • LQ45 889   -4,49   -0,50%
  • ISSI 334   -0,08   -0,02%
  • IDX30 455   -0,53   -0,12%
  • IDXHIDIV20 538   0,47   0,09%
  • IDX80 140   -0,68   -0,48%
  • IDXV30 149   0,19   0,13%
  • IDXQ30 146   -0,10   -0,07%

Proyeksi Harga Emas 2026 Versi Para Analis Wall Street Top


Selasa, 20 Januari 2026 / 06:57 WIB
Proyeksi Harga Emas 2026 Versi Para Analis Wall Street Top
ILUSTRASI. Memasuki Januari 2026 saja, emas sudah menguat sekitar 6%. (CFOTO via Reuters Connect/CFOTO)


Sumber: The Street | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Emas memang selalu punya cara untuk mencuri perhatian. Sepanjang 2025, harga emas melonjak 63%. Jika ditarik lebih jauh, sejak akhir 2019 harganya sudah naik sekitar 184%.

Memasuki Januari 2026 saja, emas sudah menguat sekitar 6%. Kontrak Januari ditutup pada 16 Januari di level US$4.588,40 per troy ounce di New York Mercantile Exchange. Angka ini naik 2,2% dalam sepekan, meski sedikit turun dibandingkan hari sebelumnya.

Mengapa harga emas terus menanjak?

Melansir The Street, seperti halnya saham, optimisme terhadap emas pada 2026 cukup besar. Survei terhadap sejumlah firma Wall Street menunjukkan proyeksi harga emas berpotensi naik sekitar 17% dibandingkan penutupan akhir 2025.

Permintaan global terhadap emas datang dari berbagai arah, antara lain:

Bank sentral, terutama di Asia, yang memborong emas sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang.

Lonjakan pembelian di China dan India, dua negara di mana kepemilikan emas memiliki nilai budaya dan finansial yang sangat kuat.

Hedge fund, yang menambah emas sebagai kelas aset baru di luar saham, obligasi, surat utang pemerintah, dan belakangan properti.

Investor ritel, khususnya di Amerika Serikat dan negara lain, yang kini bisa membeli emas dengan mudah, bahkan lewat jaringan ritel seperti Costco atau toko emas lokal.

Baca Juga: Operasi Khusus AS: Akankah Kim Jong Un Bernasib Seperti Maduro?

Pandangan umum soal emas bisa berubah drastis

Mari Kembali kepada situasi pada 1980. Saat itu inflasi tinggi, harga minyak melonjak, dan dolar AS melemah. Ketika harga emas menyentuh US$ 850 per ounce, banyak yang yakin level US$ 1.000 hanya tinggal menunggu waktu.

Namun kenyataannya berbeda. Harga emas justru ambruk tajam. Pada 1985, harganya jatuh lebih dari 60% ke sekitar US$ 350 per ounce, dan baru kembali menyentuh US$ 850 pada April 2008, tepat menjelang krisis keuangan global.

Karena itu, sesuatu yang buruk bisa saja kembali terjadi, baik pada emas maupun perak, yang belakangan justru naik lebih liar. Sepanjang 2026 saja, harga perak sudah melonjak 23%. Pertanyaannya tinggal satu: apa pemicunya?

Pemicu kejatuhan emas pada 1980

Ada dua faktor utama yang memicu kejatuhan emas saat itu:

  1. Bursa komoditas menaikkan margin perdagangan secara tajam untuk menekan spekulasi emas dan perak. Margin adalah dana tunai yang harus disetor spekulan untuk membuka posisi, biasanya sekitar 5% dari nilai kontrak.
  2. The Federal Reserve menaikkan suku bunga sangat agresif untuk menekan inflasi. Kebijakan ini menghantam spekulan dengan keras.

Sebagian besar spekulan menggunakan dana pinjaman untuk bertransaksi. Ketika bunga pinjaman melonjak, mereka terpaksa melepas posisi secepat mungkin. Ada yang selamat, tapi jauh lebih banyak yang tumbang.

Situasi serupa pernah terjadi pada 2013, ketika harga emas melonjak karena kekhawatiran Amerika Serikat akan gagal bayar utang. Namun setelah The Fed turun tangan dan pemerintah AS bersama Kongres akhirnya mencapai kesepakatan, harga emas kembali jatuh, kali ini anjlok sekitar 40%.

Semua kegaduhan itu terjadi hanya karena logam mengilap yang ditambang dari perut bumi, diproses, lalu dicetak menjadi batangan, seperti yang terlihat di Swiss pada September lalu.

Baca Juga: Khazanah Malaysia Arahkan Lebih Banyak Modal ke Jaringan Listrik dan Industri Chip

Ke mana Wall Street melihat harga emas pada 2026?

Wall Street dikenal optimistis, dan kali ini pun tidak berbeda. Para analis masih bullish terhadap emas, dengan alasan klasik: defisit anggaran besar, ketegangan global, dan dolar AS yang melemah.

Menariknya, sebagian besar proyeksi harga berada dalam kisaran yang relatif sempit. Namun ada juga yang jauh lebih agresif.

Jeurg Kiener dari Swiss Asia Capital yang berbasis di Singapura, misalnya, memperkirakan harga emas bisa menembus US$ 8.000 per ounce pada 2028.

Yardeni Research dari New York melihat emas bisa menyentuh US$ 6.000 tahun ini. Bahkan pendirinya, Ed Yardeni, dalam catatan tertanggal 23 Desember 2025, menyebut level US$ 10.000 per ounce sebagai kemungkinan pada 2030. 

Penyebabnya: defisit pemerintah global yang masif, ketegangan internasional yang berkepanjangan, serta kebijakan bank sentral AS yang cenderung inflasioner.

Proyeksi harga emas 2026 menurut para analis

(Perubahan dibandingkan penutupan akhir 2025 di US$ 4.341,10 per troy ounce)

  • Jefferies Group: US$ 6.600 (+52,04%)
  • Yardeni Group: US$ 6.000 (+38,21%)
  • UBS: US$ 5.400 (+24,39%)
  • JPMorgan Chase: US$ 5.055 (+16,45%)
  • Charles Schwab: US$ 5.055 (+16,45%)
  • Bank of America: US$ 5.000 (+15,18%)
  • ANZ Bank (Australia): US$ 5.000 (+15,18%)
  • Deutsche Bank: US$ 4.950 (+14,03%)
  • Goldman Sachs: US$ 4.900 (+12,57%)
  • Morgan Stanley: US$ 4.800 (+10,57%)
  • Standard Chartered Bank (UK): US$ 4.800 (+10,57%)
  • Wells Fargo: US$ 4.500–US$ 4.700 (+3,65% hingga 8,26%)

Tonton: Hashim Djojohadikusumo Soroti Peran Pangan dan Perumahan dalam Pertumbuhan 2026

Catatan:

Rata-rata konservatif: sekitar US$ 4.600 (naik 5,3%)

Rata-rata keseluruhan: US$ 5.180 (naik 19,3%)

Sumber: riset berbagai firma Wall Street

Selanjutnya: Pungutan Ekspor Naik, Petani Sawit Kian Layu

Menarik Dibaca: 5 Organ yang Terancam Rusak Akibat Asam Urat Tinggi, Waspada Gejala Diam-diam!




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×