Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar di antara mata uang Asia pada perdagangan Selasa (10/2/2026), di tengah pergerakan yang relatif terbatas di kawasan seiring pelaku pasar bersikap hati-hati menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Melansir Reuters, Ringgit menguat sekitar 0,23% ke level 3,923 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada hari itu.
Penguatan ringgit terjadi saat sebagian besar mata uang regional hanya bergerak tipis terhadap dolar AS.
Baca Juga: China Bantah Tuduhan AS Soal Uji Coba Nuklir Rahasia
Rupiah Indonesia turut menguat sekitar 0,12% ke level 16.775 per dolar AS, sementara yuan China naik 0,13% ke 6,912 per dolar AS.
Yen Jepang menguat tipis 0,08% ke 155,74 per dolar AS, sedangkan baht Thailand naik 0,05% ke 31,075 per dolar AS.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah tipis 0,04% ke 1.458,3 per dolar AS, sementara dolar Singapura relatif stagnan di kisaran 1,265 per dolar AS. Rupee India nyaris tidak berubah di level 90,758 per dolar AS.
Secara year-to-date (YTD), ringgit Malaysia juga mencatat kinerja paling menonjol di kawasan dengan penguatan sekitar 3,39% dibandingkan posisi akhir 2025.
Dolar Singapura menguat sekitar 1,62% sepanjang tahun ini, sementara yuan China naik 1,10% dan yen Jepang menguat 0,58%.
Sebaliknya, rupiah Indonesia tercatat melemah sekitar 0,63% sejak awal tahun, sejalan dengan tekanan pada mata uang negara berkembang akibat ketidakpastian global.
Baca Juga: Nikkei dan Topix Cetak Rekor Baru, Didukung Laba Emiten dan Optimisme Takaichi Trade
Won Korea Selatan juga mencatat penurunan lebih dalam, melemah sekitar 1,29% sepanjang tahun berjalan.
Pergerakan mata uang Asia yang cenderung terbatas mencerminkan sikap wait and see investor global, yang tengah mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global.












