kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Resolusi AS soal Iran di PBB Terancam Diveto China dan Rusia


Jumat, 08 Mei 2026 / 04:01 WIB
Resolusi AS soal Iran di PBB Terancam Diveto China dan Rusia
ILUSTRASI. AS pada Kamis (7/5/2026) mendesak negara-negara anggota PBB untuk mendukung resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan. (DW.com/DW)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat pada Kamis (7/5/2026) mendesak negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendukung resolusi yang menuntut Iran menghentikan serangan serta aktivitas penanaman ranjau di Selat Hormuz. Namun, para diplomat menilai China dan Rusia kemungkinan besar akan memveto resolusi tersebut.

Reuters melaporkan, potensi veto dari China dinilai sensitif menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pekan depan, di mana konflik Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama pembahasan.

Sebelumnya, resolusi lain yang didukung AS dan dianggap membuka jalan legitimasi bagi aksi militer terhadap Iran gagal disahkan bulan lalu setelah Rusia dan China menggunakan hak veto mereka di Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara.

Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz, didampingi para utusan negara-negara Teluk pendukung rancangan resolusi tersebut, mengatakan bahwa negara mana pun yang berupaya menggagalkan resolusi itu sedang menciptakan preseden yang sangat berbahaya.

“Jika ada negara yang menolak usulan sesederhana ini, kita harus bertanya apakah mereka benar-benar menginginkan perdamaian,” ujar Waltz kepada wartawan.

Rancangan resolusi baru itu disusun oleh Amerika Serikat dan Bahrain, dengan dukungan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.

Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyebut resolusi tersebut “cacat secara mendasar, sepihak, dan bermotif politik.”

Baca Juga: Rusia Umumkan Gencatan Senjata dengan Ukraina pada 8–10 Mei

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki landasan hukum, politik, maupun moral untuk menggambarkan diri sebagai pembela kebebasan navigasi atau keamanan maritim, seraya menyinggung blokade militer AS terhadap kapal-kapal Iran.

Tabel Negara Pendukung dan Penolak Resolusi

Negara/Pihak Sikap terhadap Resolusi
Amerika Serikat Mendukung
Bahrain Mendukung
Arab Saudi Mendukung
Uni Emirat Arab Mendukung
Kuwait Mendukung
Qatar Mendukung
China Diperkirakan memveto
Rusia Diperkirakan memveto
Iran Menolak

Para diplomat menyebut rancangan resolusi itu mendapat penolakan keras dari China dan Rusia saat dibahas secara tertutup di Dewan Keamanan pekan ini, sehingga besar kemungkinan kedua negara akan menggunakan hak veto mereka.

Duta Besar Bahrain untuk PBB Jamal Fares Alrowaiei mengatakan Bahrain berharap dapat bekerja secara konstruktif dengan seluruh anggota Dewan Keamanan untuk menyempurnakan teks resolusi tersebut dalam beberapa hari ke depan.

Komentar Waltz muncul di tengah laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan sementara untuk menghentikan perang. Teheran saat ini tengah meninjau proposal yang akan menghentikan pertempuran, meskipun sejumlah isu paling sensitif masih belum terselesaikan.

Meski Rusia dan China belum memberikan komentar resmi, seorang diplomat menyebut Rusia meminta agar rancangan resolusi ditarik atau ditulis ulang sepenuhnya.

Sementara itu, China menilai teks resolusi tersebut bias dan mengkritik penggunaan Bab VII Piagam PBB, yang memungkinkan Dewan Keamanan menjatuhkan sanksi hingga tindakan militer.

Tonton: KPK Buka Suara: Ini Alasan LHKPN Presiden Prabowo Belum Terlihat Publik

Rancangan resolusi itu mengecam dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran serta tindakan dan ancaman yang bertujuan menutup, menghambat, atau mengenakan tarif terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Resolusi tersebut juga menuntut Iran segera menghentikan serangan, mengungkap lokasi ranjau yang dipasang, dan tidak menghambat operasi pembersihan ranjau.

Pada Selasa lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut resolusi tersebut sebagai ujian bagi efektivitas PBB dan mendesak China serta Rusia agar tidak menggunakan hak veto mereka.

Dampak Potensial Jika Resolusi Diveto

Dampak Penjelasan
Ketegangan geopolitik meningkat Konflik AS-Iran berpotensi berlanjut
Risiko gangguan pasokan minyak Selat Hormuz tetap rawan
Harga energi berpotensi naik Pasar khawatir terhadap distribusi minyak
Hubungan AS-China memanas Terutama jelang kunjungan Trump
Kredibilitas PBB dipertanyakan AS menyebutnya sebagai “ujian” bagi PBB




TERBARU

[X]
×