Sumber: Al Jazeera | Editor: Noverius Laoli
Moskow disebut belum yakin apakah pemerintahan Khamenei akan bertahan, sehingga enggan mengeluarkan pernyataan keras yang bisa merusak hubungan jika terjadi pergantian kekuasaan.
Pola ini dinilai serupa dengan sikap Rusia pasca-kejatuhan mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada akhir 2024. Setelah rezim berganti, Moskow tetap menjaga kepentingannya, termasuk kontrak energi dan keberadaan pangkalan militernya.
Analis yang berbasis di Kyiv, Vyacheslav Likhachev, menilai narasi “revolusi warna” sudah menjadi klise Kremlin. Menurutnya, Rusia cenderung melihat setiap protes terhadap pemerintahan otoriter sebagai hasil campur tangan asing, baik di negara lain maupun di dalam negeri Rusia sendiri.
Baca Juga: Rusia Ultimatum AS soal Rencana Damai Ukraina: Deal Bisa Batal
Di sisi lain, pemerintah Iran juga menuding pihak asing berada di balik kerusuhan. Media yang berafiliasi dengan Israel bahkan mengklaim adanya agen asing yang mempersenjatai para demonstran. Sejumlah analis menilai, meski tuntutan massa berakar pada persoalan nyata, ketegangan diperparah oleh kepentingan geopolitik regional.
Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas selama dua pekan kerusuhan.
Kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup ribuan demonstran. Data ini belum bisa diverifikasi secara independen karena akses internet di Iran sempat diputus.
Mantan diplomat Rusia Boris Bondarev menilai Moskow tidak ingin mengalami “kegagalan reputasi” baru dengan ikut bersuara terlalu jauh. Ia mengatakan, Rusia tidak memiliki banyak opsi untuk merespons ancaman Trump tanpa memperburuk posisinya sendiri, terutama di tengah perang di Ukraina dan tekanan sanksi Barat.
“Untuk apa menggertak kalau hanya berujung pada kegagalan reputasi berikutnya?” ujar Bondarev.
Baca Juga: Risiko Perang Dagang Jilid II: China Siap Balas Pukulan Keras Trump soal Iran
Di dalam negeri, masyarakat Rusia sendiri disebut tengah bergulat dengan persoalan ekonomi dan dampak perang. “Iran? Kami sibuk bertahan hidup,” kata Irina, warga Yekaterinburg, menggambarkan kelelahan publik Rusia.
Meski begitu, analis pro-Kremlin Sergey Markov memperkirakan Rusia tetap akan berperan setelah situasi mereda. Ia menyebut Moskow bisa membantu Iran dalam proses reformasi, baik secara politik maupun strategi kekuasaan.
“Protes akan ditekan, tapi masalahnya tetap ada. Iran membutuhkan reformasi, dan Rusia bisa memberi nasihat,” tulis Markov di Telegram.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
