kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Rusia Pilih Diam soal Gejolak Iran, Enggan Ambil Risiko Politik dan Reputasi


Jumat, 16 Januari 2026 / 16:31 WIB
Rusia Pilih Diam soal Gejolak Iran, Enggan Ambil Risiko Politik dan Reputasi
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian berfoto di Kremlin (Reuters/Vyacheslav Prokofyev)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rusia tampaknya tidak berniat ikut campur secara langsung dalam gelombang protes dan ketegangan politik yang melanda Iran.

Moskow menilai aksi unjuk rasa besar-besaran di negara tersebut telah mereda dan tidak lagi mengancam stabilitas pemerintahan Teheran.

Penilaian itu disampaikan salah satu pakar Rusia terkemuka soal Iran, Nikita Smagin. Ia mengungkapkan, Kedutaan Besar Rusia di Teheran telah melaporkan kepada Kremlin bahwa situasi di lapangan mulai terkendali.

Baca Juga: China dan Rusia Tolak Langkah Eropa Memulihkan Sanksi terhadap Iran

“Moskow bisa bernapas lega,” kata Smagin kepada Al Jazeera.

Protes di Iran meletus sejak 28 Desember, dipicu tekanan ekonomi di tengah sanksi internasional. Aksi tersebut menyebar ke ratusan kota dan wilayah di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa itu.

Aparat keamanan Iran bergerak cepat membubarkan demonstrasi, yang diduga dilakukan dengan kekerasan.

Menurut Smagin, Kremlin menilai tidak ada ancaman serius dari dalam negeri Iran. “Rusia berpikir tidak ada yang membahayakan Iran dari sisi domestik,” ujarnya. Smagin sendiri meninggalkan Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.

Baca Juga: Kesepakatan Diam-Diam Trump: Ukraina, Rusia, dan Bisnis Triliunan Dolar

Sikap resmi Rusia baru muncul pada Selasa lalu. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam apa yang disebutnya sebagai “tekanan ilegal Barat” dan menuding adanya kekuatan eksternal yang berupaya mengguncang dan menghancurkan Republik Islam Iran.

Juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova, kembali menggunakan narasi lama Kremlin soal “revolusi warna”, istilah yang kerap dipakai Moskow untuk menggambarkan gerakan protes yang dianggap direkayasa Barat.

Ia menuding adanya provokator terlatih yang mengubah aksi damai menjadi kekacauan dan kekerasan.

Zakharova juga mengecam pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai mendorong intervensi dalam urusan domestik Iran.

Ancaman tersebut disebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”. Menurutnya, meredanya protes yang “direkayasa secara artifisial” berpotensi membawa stabilisasi di Iran.

Trump sebelumnya secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih institusi”, bahkan menyatakan bahwa bantuan AS sedang dalam perjalanan. Dalam unggahan sebelumnya, ia juga melontarkan ancaman keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Pejabat Rusia Ingatkan Trump Soal Kemampuan Serangan Nuklir Kiamat Rusia, Ada Apa?

Menariknya, Presiden Rusia Vladimir Putin memilih tidak berkomentar langsung soal situasi Iran. Sikap ini mengingatkan pada respons Moskow yang juga cenderung pasif terhadap sejumlah krisis politik di negara-negara sekutunya.

Menurut Smagin, diamnya Rusia selama hampir dua pekan sejak protes pecah menunjukkan kehati-hatian Kremlin.

Moskow disebut belum yakin apakah pemerintahan Khamenei akan bertahan, sehingga enggan mengeluarkan pernyataan keras yang bisa merusak hubungan jika terjadi pergantian kekuasaan.

Pola ini dinilai serupa dengan sikap Rusia pasca-kejatuhan mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada akhir 2024. Setelah rezim berganti, Moskow tetap menjaga kepentingannya, termasuk kontrak energi dan keberadaan pangkalan militernya.

Analis yang berbasis di Kyiv, Vyacheslav Likhachev, menilai narasi “revolusi warna” sudah menjadi klise Kremlin. Menurutnya, Rusia cenderung melihat setiap protes terhadap pemerintahan otoriter sebagai hasil campur tangan asing, baik di negara lain maupun di dalam negeri Rusia sendiri.

Baca Juga: Rusia Ultimatum AS soal Rencana Damai Ukraina: Deal Bisa Batal

Di sisi lain, pemerintah Iran juga menuding pihak asing berada di balik kerusuhan. Media yang berafiliasi dengan Israel bahkan mengklaim adanya agen asing yang mempersenjatai para demonstran. Sejumlah analis menilai, meski tuntutan massa berakar pada persoalan nyata, ketegangan diperparah oleh kepentingan geopolitik regional.

Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas selama dua pekan kerusuhan.

Kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar dan mencakup ribuan demonstran. Data ini belum bisa diverifikasi secara independen karena akses internet di Iran sempat diputus.

Mantan diplomat Rusia Boris Bondarev menilai Moskow tidak ingin mengalami “kegagalan reputasi” baru dengan ikut bersuara terlalu jauh. Ia mengatakan, Rusia tidak memiliki banyak opsi untuk merespons ancaman Trump tanpa memperburuk posisinya sendiri, terutama di tengah perang di Ukraina dan tekanan sanksi Barat.

“Untuk apa menggertak kalau hanya berujung pada kegagalan reputasi berikutnya?” ujar Bondarev.

Baca Juga: Risiko Perang Dagang Jilid II: China Siap Balas Pukulan Keras Trump soal Iran

Di dalam negeri, masyarakat Rusia sendiri disebut tengah bergulat dengan persoalan ekonomi dan dampak perang. “Iran? Kami sibuk bertahan hidup,” kata Irina, warga Yekaterinburg, menggambarkan kelelahan publik Rusia.

Meski begitu, analis pro-Kremlin Sergey Markov memperkirakan Rusia tetap akan berperan setelah situasi mereda. Ia menyebut Moskow bisa membantu Iran dalam proses reformasi, baik secara politik maupun strategi kekuasaan.

“Protes akan ditekan, tapi masalahnya tetap ada. Iran membutuhkan reformasi, dan Rusia bisa memberi nasihat,” tulis Markov di Telegram.

Selanjutnya: Sinopsis Ahlan Singapore & Jadwalnya, Kiesha Alvaro Terjebak Cinta Segitiga

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Konsumsi Kubis secara Rutin bagi Kesehatan Tubuh




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×