Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ia menambahkan, jika penurunan pembelian dari India berlanjut, diskon yang lebih dalam kemungkinan akan mendorong tren ini terus berlanjut dalam waktu dekat.
Kilang independen China, yang dikenal sebagai teapots, masih menjadi pembeli utama minyak yang terkena sanksi. Volume minyak Rusia yang masuk ke pusat kilang teapot di Provinsi Shandong pada Januari tercatat mencapai rekor tertinggi.
Sebaliknya, kilang milik negara China menghentikan pembelian minyak Rusia lewat jalur laut sejak Oktober, setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap produsen Rusia seperti Rosneft dan Lukoil.
Batas Daya Serap China
Meski demikian, para analis menilai China kemungkinan mulai mendekati batas maksimum dalam menyerap minyak Rusia, terutama jika kilang milik negara tetap menahan diri.
Data Kpler menunjukkan, impor minyak Rusia lewat jalur laut ke China melonjak ke rekor sekitar 1,7 juta barel per hari pada Januari. Pada saat yang sama, impor India turun menjadi sekitar 1,1 juta barel per hari, terendah sejak November 2022.
Sementara itu, OilX mencatat impor China sebesar 1,64 juta barel per hari pada Januari, tertinggi sejak Maret 2024.
Analis menilai kilang independen China tidak memiliki kapasitas untuk menyerap seluruh kelebihan pasokan minyak Rusia.
Tonton: Vortexa Sebut Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Bantah!
“Dengan meningkatnya stok di dalam negeri, kami memperkirakan aliran minyak Rusia ke China akan menurun mulai Maret, setelah lonjakan pada Januari–Februari 2026,” kata Sun Jianan, analis senior Energy Aspects.
Emma Li dari Vortexa menambahkan, tanpa kembalinya minat dari kilang milik negara, Rusia masih akan menghadapi pasar yang kelebihan pasokan, meskipun penyerapan oleh kilang teapot cukup kuat.
Meski begitu, ada potensi tambahan permintaan setelah CNPC berencana menghidupkan kembali salah satu unit kilangnya di Dalian pada pertengahan tahun ini, yang diperkirakan akan memanfaatkan margin tinggi dari minyak Rusia.












