Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Serangan Iran dilaporkan menargetkan bandara, instalasi militer, pelabuhan, hingga hotel di kawasan Teluk.
Dubai International Airport dan Zayed International Airport di Abu Dhabi dilaporkan mengalami kerusakan. Satu warga sipil tewas dan 11 orang terluka akibat insiden di dua bandara tersebut.
Di sisi lain, salah satu dermaga di Jebel Ali Port di Dubai dilaporkan terbakar setelah sistem pertahanan udara mencegat serangan udara.
Beberapa perusahaan terbesar di Uni Emirat Arab antara lain pengembang properti Emaar Properties dan ritel Majid Al Futtaim. Negara tersebut juga menjadi magnet bagi hedge fund global dan bank internasional yang ingin dekat dengan dana kekayaan negara raksasa seperti Abu Dhabi Investment Authority dan Mubadala Investment Company.
Ramadan ikut terdampak
Gangguan ini terjadi pada momen yang sangat penting dalam kalender bisnis kawasan Teluk, yakni selama bulan suci Ramadan.
Pada periode ini, acara buka puasa (iftar) dan sahur perusahaan biasanya menjadi ajang penting untuk membangun jaringan bisnis. Namun sejumlah acara yang diselenggarakan perusahaan besar seperti Emirates, perusahaan energi Masdar, Mubadala Investment Company, dan perusahaan pendidikan GEMS Education dilaporkan dibatalkan atau ditunda.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak, Kripto Jadi Lindung Nilai Instan Saat Konflik Memanas
Bagi kawasan yang sangat bergantung pada relasi personal dalam transaksi bisnis, hilangnya musim networking selama Ramadan menjadi kerugian yang tidak terlihat namun signifikan.
Serangan juga menghantam kawasan permukiman di sekitar Dubai Marina dan Palm Jumeirah. Hotel Fairmont The Palm dilaporkan terbakar, sementara ikon pariwisata Burj Al Arab mengalami kerusakan.
Hotel Fairmont The Palm sebelumnya baru saja dijual seharga US$ 325 juta kepada Arzan Investment Management dari Kuwait, sebuah transaksi yang sempat dipandang sebagai simbol meningkatnya permintaan pariwisata di kawasan Teluk.













