Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Dakwaan AS juga menyebut Chen sempat memegang kewarganegaraan Vanuatu, Saint Lucia, dan Siprus, serta pernah tinggal di Kamboja, Singapura, Taiwan, dan Inggris.
Pada 2014, Chen pernah diculik dari sebuah hotel di Thailand oleh sekelompok pria yang mengaku memiliki surat perintah penangkapan dari China. Ia dipaksa masuk ke SUV hitam dan kemudian dilepaskan di Kamboja. Chen tidak pernah melaporkan insiden tersebut ke otoritas Thailand.
Di sisi lain, situs Prince Group menggambarkan Chen sebagai pengusaha terhormat dan filantropis yang mendirikan program beasiswa bagi 400 mahasiswa Kamboja serta mengklaim telah menyumbangkan lebih dari US$ 16 juta untuk kegiatan sosial.
Chen nyaris tak terlihat di publik selama bertahun-tahun, hingga media pemerintah China menayangkan video dirinya dalam kondisi diborgol dan ditutup kepalanya, dikawal ketat oleh aparat bersenjata saat diekstradisi dari Kamboja ke China.
Tonton: Jejak 113 Ton Emas Venezuela di Swiss Terungkap Usai Maduro Ditangkap
Kesimpulan
Kasus Chen Zhi mencerminkan sisi gelap ekspansi bisnis digital lintas negara, di mana konglomerasi legal diduga digunakan sebagai kedok kejahatan siber berskala global. Meski Prince Group membantah seluruh tuduhan, dakwaan dari AS, temuan PBB, serta langkah tegas China dan Kamboja menunjukkan besarnya perhatian internasional terhadap jaringan penipuan online dan pencucian uang. Penangkapan dan ekstradisi Chen menandai babak baru penegakan hukum lintas negara, sekaligus menjadi peringatan bahwa status taipan, kewarganegaraan ganda, dan filantropi tidak menjamin kekebalan dari jerat hukum.













