Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Venezuela yang telah digulingkan, Nicolas Maduro menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika yang diajukan Amerika Serikat (AS) , Senin (5/1), menyusul penangkapannya oleh pemerintahan Presiden Donald Trump yang mengguncang komunitas internasional dan memicu ketidakpastian politik di Caracas.
“Saya tidak bersalah. Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya,” kata Maduro (63) melalui penerjemah dalam sidang singkat di Pengadilan Distrik AS Manhattan, sebelum pernyataannya dipotong oleh Hakim Distrik Alvin Hellerstein.
Istri Maduro, Cilia Flores, juga menyatakan tidak bersalah. Hakim menetapkan sidang lanjutan digelar pada 17 Maret mendatang.
Baca Juga: Pukulan bagi Beijing: Maduro Jatuh, Kredibilitas China Dipertanyakan
Puluhan demonstran pro dan anti-Maduro terlihat berkumpul di luar gedung pengadilan selama persidangan yang berlangsung sekitar 30 menit itu.
Beberapa jam setelah sidang di New York, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara. Meski menyampaikan dukungan terhadap Maduro, Rodriguez tidak secara tegas menyatakan akan menentang langkah AS.
Laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui laporan intelijen rahasia AS menyebutkan bahwa Rodriguez dinilai sebagai figur paling memungkinkan memimpin pemerintahan sementara di tengah kekosongan kekuasaan.
Laporan itu menilai tokoh oposisi, termasuk peraih Nobel Perdamaian Maria Corina Machado atau mantan kandidat presiden Edmundo Gonzalez, akan kesulitan memperoleh legitimasi.
Langkah Trump tersebut dinilai telah menyingkirkan oposisi Venezuela dari peran sentral untuk sementara waktu.
Baca Juga: Bukan Saham vs Obligasi, Ini Makna Asli Aturan 70/30 Buffett
Sebaliknya, Trump mengisyaratkan bahwa Rodriguez bersedia bekerja sama dengan Washington.
Di Caracas, pejabat senior dari pemerintahan Maduro yang telah berkuasa selama 13 tahun masih mengendalikan negara produsen minyak berpenduduk sekitar 30 juta jiwa itu.
Mereka menunjukkan sikap campuran antara perlawanan terbuka dan sinyal kemungkinan kerja sama dengan pemerintahan Trump.
Rodriguez disebut sebagai salah satu dari sedikit tokoh yang mampu menjaga stabilitas, bersama menteri dalam negeri dan pertahanan, menurut laporan intelijen tersebut.
Pada hari yang sama, saudara Delcy Rodriguez, Jorge Rodriguez, kembali dilantik sebagai Ketua Majelis Nasional yang didominasi pendukung Maduro. Ia berjanji akan menggunakan “semua jalur dan forum” untuk membawa Maduro kembali berkuasa.
Trump menegaskan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela. “Kami berperang melawan para pengedar narkoba,” katanya kepada NBC News.
Ia juga menyebut pemilu baru dalam waktu 30 hari sebagai hal yang tidak realistis.
“Kami harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Tidak mungkin menggelar pemilu dalam kondisi seperti sekarang,” ujar Trump.
Baca Juga: Geger! Trump Sebut Kuba “Siap Runtuh” Usai Penangkapan Maduro
Tuduhan Perdagangan Kokain
Maduro dituduh memimpin jaringan perdagangan kokain yang bekerja sama dengan kelompok bersenjata, termasuk kartel Sinaloa dan Zetas dari Meksiko, pemberontak FARC Kolombia, serta geng Tren de Aragua dari Venezuela.
Ia menghadapi empat dakwaan pidana, termasuk narkoterorisme, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan perangkat peledak.
Maduro selama ini membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai dalih imperialisme untuk menguasai cadangan minyak Venezuela.
Trump secara terbuka menyatakan ambisinya untuk mengakses kekayaan minyak Venezuela. Saham perusahaan energi AS melonjak pada Senin, didorong harapan terbukanya kembali akses ke cadangan minyak besar negara tersebut.
Baca Juga: Investor Berburu Aset Aman Usai Penangkapan Maduro: Emas Rekor, Perak Meroket 7%
Penangkapan seorang kepala negara yang masih menjabat memicu perdebatan global. Dewan Keamanan PBB membahas implikasi operasi tersebut, yang dikecam Rusia, China, dan sekutu kiri Venezuela.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyuarakan kekhawatiran atas stabilitas Venezuela dan legalitas operasi AS, yang disebut sebagai intervensi paling dramatis AS di Amerika Latin sejak invasi Panama 1989.
Pasukan khusus AS dilaporkan memasuki Caracas dengan helikopter pada Sabtu (3/1), menembus pengamanan dan menangkap Maduro dari dekat ruang perlindungan.
Ambisi Minyak AS
Trump mengatakan perusahaan minyak AS akan kembali ke Venezuela dan membangun ulang infrastruktur sektor energi negara itu.
“Kami mengambil kembali apa yang mereka curi. Kami yang memegang kendali,” ujar Trump.
Baca Juga: UPDATE Senin (5/1): Harga Minyak Naik 1% di Tengah Gejolak Politik Venezuela
Ia menyebut pemerintah AS mungkin akan mensubsidi pembangunan kembali infrastruktur minyak oleh perusahaan-perusahaan besar AS, dengan target rampung kurang dari 18 bulan.
CBS News melaporkan bahwa perwakilan Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron dijadwalkan bertemu Menteri Energi AS Chris Wright pekan ini.













