kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.805   24,00   0,14%
  • IDX 8.944   10,63   0,12%
  • KOMPAS100 1.232   5,76   0,47%
  • LQ45 871   5,51   0,64%
  • ISSI 324   1,29   0,40%
  • IDX30 443   -0,12   -0,03%
  • IDXHIDIV20 519   3,03   0,59%
  • IDX80 137   0,70   0,51%
  • IDXV30 144   1,20   0,84%
  • IDXQ30 142   0,53   0,37%

UPDATE Senin (5/1): Harga Minyak Naik 1% di Tengah Gejolak Politik Venezuela


Senin, 05 Januari 2026 / 22:29 WIB
UPDATE Senin (5/1): Harga Minyak Naik 1% di Tengah Gejolak Politik Venezuela
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Afolabi Sotunde)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik sekitar 1% pada perdagangan Senin (5/1/2026) seiring pelaku pasar menilai potensi dampak gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent menguat 55 sen atau 0,9% ke level US$61,30 per barel pada pukul 14.26 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 64 sen atau 1,1% menjadi US$57,96 per barel.

Baca Juga: PMI Manufaktur AS Desember 2025 Melorot, Sinyal Kontraksi 10 Bulan

Pergerakan harga minyak cenderung volatil dan sempat keluar-masuk zona negatif dalam perdagangan Eropa, seiring pasar mencerna kabar bahwa Amerika Serikat telah menangkap pemimpin Venezuela dan berencana mengambil alih kendali negara anggota OPEC tersebut.

Venezuela selama ini berada di bawah embargo minyak AS yang masih berlaku.

Meski demikian, analis menilai bahwa di tengah kondisi pasokan minyak global yang melimpah, gangguan tambahan terhadap ekspor Venezuela kemungkinan tidak akan memberikan dampak besar dalam waktu dekat.

Baca Juga: Ruben Amorim Dipecat, Manchester United Masuk Siklus Pencarian Manajer Baru Lagi

Produksi minyak Venezuela telah merosot tajam dalam beberapa dekade terakhir akibat salah kelola dan minimnya investasi asing sejak nasionalisasi industri minyak pada awal 2000-an.

Tahun lalu, produksi minyak negara itu rata-rata hanya sekitar 1 juta barel per hari, setara sekitar 1% dari total produksi minyak global.

Presiden sementara Venezuela pada Minggu (4/1) menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat. Analis SEB menilai langkah tersebut dapat mengurangi risiko embargo berkepanjangan terhadap ekspor minyak Venezuela.

“Hal ini menurunkan risiko embargo jangka panjang terhadap ekspor minyak Venezuela, dengan potensi aliran minyak keluar yang lebih bebas dalam waktu tidak terlalu lama,” tulis analis SEB. Sejalan dengan sentimen tersebut, saham perusahaan energi AS tercatat menguat.

Baca Juga: Saham Perusahaan Minyak AS Meroket Pasca Trump Bidik Cadangan Venezuela

Namun, sebagian analis tetap berhati-hati. Analis Bernstein menyebut pasar minyak saat ini tengah menghadapi surplus pasokan yang tidak terkait langsung dengan Venezuela.

“Kami memahami mengapa pasar fokus pada sentimen negatif berupa potensi tambahan pasokan dari Venezuela. Namun, kami tidak melihat hal itu akan terjadi dengan cepat,” ujar analis Bernstein.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga membuka kemungkinan intervensi militer lebih lanjut, dengan menyebut Kolombia dan Meksiko dapat menjadi target jika tidak menekan arus perdagangan narkoba ilegal. Pasar juga menanti respons Iran atas ancaman Trump untuk ikut campur dalam penanganan aksi protes di negara produsen minyak tersebut.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada Minggu memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi mereka.

Selanjutnya: Konflik AS–Venezuela Tak Berpengaruh, IHSG Berhasil Cetak All Time High

Menarik Dibaca: 7 Barang di Ruang Tamu yang Sebaiknya Dijauhkan Jika Punya Hewan Peliharaan




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×