kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Sindir Wapres AS, PM Inggris Beri Penghormatan kepada Veteran Perang


Kamis, 06 Maret 2025 / 09:25 WIB
Sindir Wapres AS, PM Inggris Beri Penghormatan kepada Veteran Perang
ILUSTRASI. Perdana Menteri Keir Starmer dan istrinya Victoria Starmer bereaksi saat menyambut para pejuang dan aktivis kampanye Partai Buruh di Number 10 Downing Street, menyusul hasil pemilihan, di London, Britania Raya, 5 Juli 2024. Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, memberikan penghormatan kepada para veteran yang bertempur di Afghanistan dan Irak.


Sumber: BBC | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, memberikan penghormatan kepada para veteran yang bertempur di Afghanistan dan Irak, menyusul pernyataan kontroversial Wakil Presiden AS, JD Vance, yang dianggap merendahkan pasukan Inggris.

Dalam sesi Pertanyaan Perdana Menteri (PMQS), Sir Keir mengenang para prajurit yang gugur dalam tugas, tanpa secara langsung menyinggung pernyataan Vance. Ia menyebutkan bahwa besok menandai 13 tahun sejak enam tentara Inggris tewas dalam patroli di Afghanistan akibat ledakan bahan peledak.

“Kami tidak akan pernah melupakan keberanian dan pengorbanan mereka,” ujar Sir Keir di hadapan anggota parlemen.

Baca Juga: Wapres AS Bantah Rendahkan Inggris & Prancis soal Pasukan Penjaga Perdamaian Ukraina

Sebelumnya, Vance menuai kritik setelah menyatakan bahwa kepentingan ekonomi AS di Ukraina lebih penting dibandingkan dengan kontribusi “20.000 tentara dari negara acak yang tidak berperang dalam 30 atau 40 tahun.”

Pernyataan ini dianggap menyinggung Inggris dan Prancis, yang telah menyatakan kesediaan mereka mengirim pasukan ke Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan damai. Namun, Vance membantah telah menyebut Inggris atau Prancis secara spesifik.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat Liberal, Richard Foord, mengkritik pernyataan Vance dan meminta PM Inggris untuk mengingatkan AS bahwa Inggris telah mendukung negara itu dalam invasi ke Irak pasca-serangan 9/11.

Sir Keir menegaskan bahwa peran historis Inggris dalam kerja sama dengan sekutu sangat penting dan bahwa pengorbanan para tentara harus dihormati.

Baca Juga: PM Singapura Khawatir Persaingan AS-China Seret Dunia ke Ambang Perang Dunia Ketiga

Dalam diskusi lebih lanjut, PM juga ditanya tentang laporan bahwa AS telah menangguhkan pembagian intelijen dengan Ukraina. Sir Keir tidak memberikan jawaban langsung, tetapi menegaskan bahwa Inggris tetap bekerja sama erat dengan AS dalam bidang pertahanan dan keamanan.

Pada sesi PMQS yang berlangsung tenang, pemimpin Konservatif, Kemi Badenoch, mempertanyakan langkah lebih lanjut yang telah diambil untuk memperoleh jaminan keamanan AS bagi Ukraina.

Sir Keir menjelaskan bahwa ia telah membahas hal tersebut dengan Presiden Donald Trump, yang menegaskan komitmen AS terhadap prinsip NATO.

Sir Keir menekankan bahwa jaminan keamanan dari AS, seperti perlindungan udara, akan krusial dalam mencegah agresi Rusia lebih lanjut terhadap Ukraina jika kesepakatan damai tercapai.

Baca Juga: Bertemu Wakil PM Inggris, Prabowo Bahas Program Gizi untuk Anak-anak

Namun, hingga kini, Trump belum memberikan jaminan tersebut secara eksplisit dan lebih menekankan pada keterlibatan ekonomi AS di Ukraina sebagai bentuk dukungan keamanan.

Pernyataan Vance telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk anggota parlemen Inggris dan menteri angkatan bersenjata Prancis.

Inggris sebelumnya bergabung dengan AS dalam invasi ke Afghanistan pada 2001 dan turut serta dalam invasi ke Irak pada 2003, dengan pasukan Inggris di Irak sempat mencapai 46.000 personel.


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×