kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.679.000   50.000   1,90%
  • USD/IDR 17.939   -8,00   -0,04%
  • IDX 6.344   -7,43   -0,12%
  • KOMPAS100 833   -2,31   -0,28%
  • LQ45 631   -3,13   -0,49%
  • ISSI 219   -0,63   -0,29%
  • IDX30 354   -1,64   -0,46%
  • IDXHIDIV20 433   -1,50   -0,35%
  • IDX80 95   -0,31   -0,33%
  • IDXV30 120   -0,41   -0,34%
  • IDXQ30 113   -0,60   -0,53%

Sinopec Borong Minyak Rusia demi Jaga Operasi Kilang di Tengah Krisis Timur Tengah


Kamis, 06 Agustus 2026 / 18:46 WIB
Sinopec Borong Minyak Rusia demi Jaga Operasi Kilang di Tengah Krisis Timur Tengah
ILUSTRASI. Perusahaan kilang minyak terbesar di dunia, Sinopec Corp, meningkatkan pembelian minyak mentah Rusia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan kilang minyak terbesar di dunia, Sinopec Corp, meningkatkan pembelian minyak mentah Rusia dari kawasan Timur Jauh sebagai upaya menggantikan pasokan dari Timur Tengah yang berkurang akibat perang Iran.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional kilang sekaligus mempertahankan margin keuntungan ekspor bahan bakar.

Berdasarkan sejumlah sumber perdagangan dan data pelacakan kapal, pembelian minyak Rusia yang harganya lebih murah dibandingkan minyak dari Brasil maupun Afrika Barat membantu Sinopec mempertahankan tingkat pengolahan (throughput) yang relatif stabil.

Strategi tersebut juga memungkinkan perusahaan mengirimkan surplus bahan bakar ke pasar ekspor dengan margin yang tetap kuat, meskipun pemerintah China sempat membatasi ekspor produk bahan bakar sejak Maret guna menjaga pasokan domestik di tengah gangguan perdagangan akibat perang.

Baca Juga: FIFA Minta Maaf, Kepemimpinan Gianni Infantino Jadi Sorotan

Untuk pengiriman periode Juli hingga September, Sinopec membeli sekitar 30 hingga 40 kargo minyak mentah Eastern Siberia-Pacific Ocean (ESPO) dari Rusia, atau setara 241.000 hingga 320.000 barel per hari (bph).

Volume tersebut mewakili sekitar 5% hingga 6% dari total kapasitas pengolahan Sinopec yang mencapai 5,2 juta barel per hari.

Perwakilan Sinopec menolak memberikan komentar mengenai aktivitas operasional perusahaan.

Analis utama China di Vortexa Analytics, Emma Li, mengatakan permintaan minyak mentah Sinopec mulai menunjukkan stabilisasi setelah pemerintah melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar.

"Permintaan minyak mentah Sinopec tampaknya telah mencapai titik terendah setelah pelonggaran pembatasan ekspor bahan bakar, tetapi pemulihannya masih bersifat selektif," ujar Li.

Impor Minyak China Berubah Arah

Sebagai pembeli minyak terbesar di dunia, China memangkas impor minyak mentah secara keseluruhan sejak pecahnya perang Iran. Pada Juni, impor minyak Negeri Tirai Bambu anjlok 41% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pemerintah China mulai melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar untuk Juli dan Agustus.

Menurut Li, peningkatan impor bukan terjadi secara menyeluruh, melainkan lebih difokuskan pada pasokan yang memiliki kepastian pengiriman lebih tinggi dan biaya logistik yang lebih rendah.

Baca Juga: Bursa Inggris Menguat Saat Pasar Asia Lesu, Saham WPP Melonjak 26%

"Alih-alih terjadi pertumbuhan impor secara luas, permintaan kini bergeser ke pasokan yang memiliki kepastian pengiriman lebih tinggi dan biaya angkut lebih rendah, terutama dari persediaan domestik serta kargo minyak Rusia dari Timur Jauh yang menempuh rute pendek," kata Li kepada Reuters.

Berdasarkan data pelacakan Vortexa, Sinopec menerima sekitar 7,4 juta barel minyak ESPO selama Juli, yang sebagian besar dibongkar di Pelabuhan Rizhao, pusat pengilangan minyak di Provinsi Shandong.

Untuk pengiriman Agustus dan September, perusahaan juga telah membeli sedikitnya 10 kargo setiap bulan, menurut Li dan empat pedagang yang mengikuti perdagangan ESPO.

Minyak ESPO umumnya dikirim menggunakan kapal tanker jenis Aframax yang mampu mengangkut sekitar 740.000 barel minyak mentah.

Pangkas Pembelian Minyak Arab Saudi

Sejak perang Ukraina dimulai, China dan India menjadi pembeli utama minyak Rusia. Namun, kilang-kilang minyak milik pemerintah China, termasuk Sinopec, sempat menghentikan pembelian pada Oktober setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap produsen minyak Rusia seperti Rosneft dan Lukoil.

Pemerintah China tidak mengakui sanksi sepihak tersebut, sehingga kilang-kilang independen tetap melanjutkan impor minyak Rusia.

Reuters sebelumnya melaporkan Sinopec kembali membeli minyak Rusia pada Maret dan April setelah adanya pengecualian sementara dari Amerika Serikat.

Perusahaan membeli sekitar 10 kargo pada periode tersebut, kemudian meningkatkan volumenya setelah pengecualian berakhir karena perang Iran memperketat pasokan global.

Empat sumber yang mengetahui transaksi tersebut mengatakan pembelian ESPO terbaru tidak melibatkan entitas yang dikenai sanksi sebagai pihak lawan transaksi. Pembelian dilakukan melalui perantara, meski mereka tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sejak awal perang Ukraina, Sinopec diketahui melakukan pembayaran minyak Rusia menggunakan mata uang yuan China.

Baca Juga: Dolar Kanada Diproyeksi Stabil dalam Jangka Pendek, Berpotensi Menguat pada 2027

Sebelum perang Iran pecah, hampir separuh kebutuhan minyak mentah Sinopec berasal dari Timur Tengah dan perusahaan merupakan salah satu pelanggan terbesar Arab Saudi.

Namun, menurut sumber perdagangan, Sinopec tidak membeli minyak mentah Arab Saudi sama sekali untuk pengiriman Juni dan Juli. Pada Agustus, perusahaan hanya mengimpor sekitar 2 juta barel.

Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 20 juta barel yang diimpor masing-masing pada Maret dan April, serta kurang dari seperlima rata-rata impor bulanan sebesar 11 juta barel sebelum perang Iran dimulai.

Minyak Rusia Jauh Lebih Murah

Para pedagang menyebut minyak ESPO untuk pengiriman September diperdagangkan dengan diskon sekitar US$1 hingga US$2 per barel terhadap acuan Brent.

Harga tersebut sekitar US$10 per barel lebih murah dibandingkan minyak pesaing dari Timur Tengah seperti Oman maupun minyak Tupi asal Brasil.

Sebelum perang Iran berlangsung, minyak mentah ESPO Rusia diperdagangkan dengan diskon sekitar US$10 per barel.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×