Sumber: Reuters | Editor: Hendra Gunawan
BEIJING. Sinyal ekonomi dunia masih bakal melambat kian kuat. Setelah Bank Dunia, giliran Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2015 dan 2016.
Dalam laporan terbaru World Economic Outlook, IMF meramalkan ekonomi global hanya akan tumbuh 3,5% di tahun 2015. Ini lebih kecil dari prediksi IMF sebelumnya di bulan Oktober 2014 sebesar 3,8%.
Sedangkan di tahun 2016, ekonomi dunia diprediksi tumbuh 3,7%, lebih rendah dari proyeksi di bulan Oktober 2014 yakni 4%.
Olivia Blanchard, Kepala Ekonom IMF mengatakan, anjloknya harga minyak dunia merupakan faktor yang mampu mendukung pertumbuhan. Namun, faktor positif tersebut juga diimbangi oleh sentimen negatif, seperti depresiasi euro dan yen.
"Termasuk warisan krisis yang berlarut-larut dan potensi pertumbuhan yang lebih rendah di banyak negara," ujar Blanchard dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters.
IMF menyarankan kepada negara maju untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif, menghindari kenaikan suku bunga dan mengantisipasi penurunan harga minyak mentah sehingga agar terhindar dari risiko deflasi.
IMF melaporkan perekonomian Amerika Serikat (AS) paling bagus diantara ekonomi utama lainnya. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dinaikkan dari 3,1% menjadi 3,6% pada tahun 2015. Pengetatan fiskal dan pelonggaran moneter bisa mengimbang dampak penguatan dollar AS.
Negara berkembang
Sementara, ekonomi China pada tahun 2015 akan melambat karena pihak berwenang di Beijing akan lebih peduli dengan risiko kredit ketimbang pertumbuhan investasi. Begitupun juga dengan proyeksi ekonomi negara berkembang lain juga akan melambat.
Pertumbuhan ekonomi China dipangkas menjadi 6,3% dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni sebesar 6,8%. Namun, ekonomi India justru akan meningkat dari 6,3% di tahun fiskal 2016 menjadi 6,5% untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2017.
Menurut IMF, negara berkembang harus menghadapi risiko pelarian modal jika Bank Sentral AS memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan. IMF meramalkan, pertumbuhan ekonomi di negara berkembang di sepanjang tahun 2015 bakal turun menjadi 4,3%. Padahal, pada Oktober tahun lalu, IMF yakin, ekonomi negara berkembang bisa tumbuh 5%.
Di kawasan Eropa, meski harga minyak dunia turun, tapi rendahnya nilai investasi membuat ekonomi kawasan ini terancam deflasi. Langkah Bank Sentral Eropa memperluas stimulus moneter dengan pembelian obligasi pemerintah mensinyalir Eropa tenga berjuang dari krisis.
Dikutip dari Bloomberg, IMF menggunting proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 di 19 negara Eropa dari 1,3% di bulan Oktober 2014 menjadi 1,2%. "Bank Sentral Eropa harus all out dengan program pembelian obligasi. Kami ingin memastikan ketika ada pengumuman bahwa itu seperti yang diharapkan pasar," ujar Blanchard .













