Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BRASIL. Di sebuah kafe modern di Jalan Oscar Freire, kawasan ritel elite Sao Paulo, secangkir espresso disajikan dengan aroma cokelat yang kaya, lapisan crema tebal, dan rasa pahit yang memikat. Anehnya, kopi itu dibuat 100% dari biji robusta, varietas yang selama ini dicap murahan dan kerap dijadikan bahan pengisi kopi instan.
Namun di tengah melonjaknya harga kopi dunia, robusta tak lagi dianggap sebelah mata. Produktivitasnya yang tinggi dan ketahanan terhadap iklim ekstrem menjadikannya aset strategis bagi industri kopi global, terutama ketika arabika bahan dasar kopi premium semakin rentan dan mahal.
“Dengan robusta berkualitas, kami bisa meningkatkan porsi dalam campuran espresso tanpa mengorbankan rasa,” kata Marcio Ferreira, Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Brasil Cecafe. “Produktivitasnya tinggi, harganya lebih stabil, dan margin tetap terjaga,” lanjutnya.
Brasil, produsen arabika terbesar sekaligus penghasil robusta nomor dua dunia, kini menjadi pusat transformasi robusta premium. Negara bagian Espirito Santo, rumah bagi sebagian besar robusta Brasil menargetkan produksi 1,5 juta karung robusta spesialti per tahun pada 2032, naik drastis dari 10.000 karung saat ini. Lonjakan itu didorong oleh investasi petani dalam panen selektif, pengering modern, dan sortasi ketat untuk memastikan kualitas tinggi.
Produktivitas robusta memang menonjol dibanding arabika. Biji robusta lebih tahan panas, cepat panen, dan mampu menghasilkan volume lebih besar per hektar. Kinerja ini menjadi daya tarik utama bagi roaster yang menghadapi biaya arabika yang melambung akibat cuaca ekstrem dan ketegangan perdagangan global.
Harga robusta spesialti pun ikut meroket. Hingga Oktober 2026, harga rata-rata per karung 60 kg menembus US$ 295, lebih dari dua kali lipat harga rata-rata 2021. Kontrak berjangka robusta melonjak lebih dari 80% sejak 2021 menjadi sekitar US$ 4.370 per ton, sementara arabika naik 60% menjadi US$3,7 per pon. Kenaikan ini membuat robusta premium menjadi solusi strategis untuk menjaga margin dan mengontrol biaya produksi kopi global.
Baca Juga: Permintaan EV China Anjlok Tak Terduga, BYD Terpukul!
Perubahan juga tercermin pada standar industri. Specialty Coffee Association memperbarui kurikulum penilaian untuk menyertakan robusta, memungkinkan penilai mengapresiasi kualitas tinggi robusta, dari aroma rempah hingga tekstur body. “Sekarang robusta dinilai berdasarkan merit, bukan hanya spesiesnya,” kata Kim Ionescu, Chief Strategy Development Officer SCA.
Bagi petani, robusta menawarkan peluang baru. Banyak petani arabika mulai menanam robusta, memanfaatkan produktivitas tinggi dan potensi harga premium. Koperasi besar seperti Cooabriel memperluas pembibitan hingga 10 juta bibit per tahun, jauh meningkat dari 2 juta sebelumnya, menandakan pergeseran strategis menuju produksi massal robusta spesialti.
Bagi industri kopi, robusta bukan sekadar alternatif. Ini adalah alat bisnis yang memungkinkan kombinasi produktivitas tinggi dan harga lebih terkendali, menjaga rantai pasok tetap stabil di tengah volatilitas pasar global.
Di cangkir espresso Oscar Freire itu, robusta membuktikan dirinya: lebih dari sekadar biji murah, ia adalah jawaban pragmatis industri kopi global untuk produktivitas, kualitas, dan harga yang terus naik.
Baca Juga: Emas dan Perak Menguat dalam Perdagangan yang Bergejolak, CME Kerek Margin













