Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - CEO Tesla Elon Musk mengeluarkan peringatan keras soal kondisi keuangan Amerika Serikat.
Melansir Money Wise, dalam wawancara di Dwarkesh Podcast pada 5 Februari, Musk mengatakan Amerika Serikat melaju cepat menuju kebangkrutan seiring terus membengkaknya utang nasional.
“Kita 1.000% akan bangkrut sebagai negara dan gagal sebagai negara, tanpa AI dan robot,” kata Musk.
Menurutnya, tidak ada solusi lain yang mampu mengatasi utang nasional selain terobosan besar di bidang kecerdasan buatan (AI) dan robotika.
Utang AS Tembus US$ 38,5 Triliun
Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, total utang nasional Amerika kini mencapai sekitar US$ 38,56 triliun dan terus bertambah karena belanja pemerintah lebih besar dibandingkan penerimaan negara.
Sepanjang tahun fiskal 2026 sejauh ini, pemerintah AS telah membelanjakan sekitar US$ 602 miliar lebih banyak dibandingkan pendapatannya.
Tanpa lonjakan produktivitas dari AI dan robotika, Musk menggambarkan masa depan ekonomi AS dengan nada suram. Ia menyebut Amerika benar-benar dalam masalah besar karena utang terus menumpuk dengan cepat.
Baca Juga: Ketua The Fed Jerome Powell Bawa Kabar Buruk bagi Presiden Donald Trump, Apa Itu?
Beban Bunga Utang Lebih Besar dari Anggaran Militer
Musk juga menyoroti besarnya beban bunga utang pemerintah.
Menurutnya, pembayaran bunga utang nasional kini sudah melampaui anggaran militer AS, yang mencapai sekitar US$ 1 triliun per tahun.
“Kita menghabiskan lebih dari satu triliun dolar hanya untuk membayar bunga utang,” ujar Musk.
Laporan terbaru dari Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan pembayaran bunga utang AS akan menembus US$ 1,5 triliun pada 2032 dan meningkat menjadi sekitar US$ 1,8 triliun pada 2035.
Risiko ‘Debt Death Spiral’
Kekhawatiran soal utang AS juga disuarakan oleh Ray Dalio, pendiri hedge fund terbesar dunia, Bridgewater Associates. Dalio memperingatkan AS berisiko masuk ke dalam “death spiral” utang, yakni kondisi ketika pemerintah harus terus berutang hanya untuk membayar bunga utang lama.
Namun, Dalio tidak memperkirakan AS akan benar-benar bangkrut secara teknis.
Menurutnya, bank sentral akan mencetak uang untuk menutup kebutuhan tersebut. Konsekuensinya bukan gagal bayar, melainkan pelemahan nilai dolar.
Dengan kata lain, dolar mungkin tidak akan habis, tetapi daya belinya bisa terus menurun.
Baca Juga: Saat Produktivitas Robusta Mengerek Harga Kopi Dunia
Nilai Dolar Terus Tergerus
Musk sebelumnya juga memperingatkan bahwa jika tren ini berlanjut, nilai dolar bisa terus terdepresiasi.
Data Federal Reserve Bank of Minneapolis menunjukkan, daya beli US$ 100 pada 2025 setara dengan hanya sekitar US$ 12 pada tahun 1970. Ini mencerminkan betapa besarnya erosi nilai uang akibat inflasi dalam jangka panjang.













