Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India dan Amerika Serikat (AS) bakal menyelesaikan dan menandatangani pernyataan bersama terkait tahap pertama Perjanjian Perdagangan Bilateral alias Bilateral Trade Agreement (BTA). Kesepakatan akan diteken dalam 4–5 hari ke depan.
Dalam kesepakatan tersebut, Menteri Perdagangan India Piyush Goyal mengatakan, ada pengurangan tarif AS untuk India dari 50% menjadi 18%. Pengurangan akan segera berlaku melalui perintah eksekutif Presiden AS. Namun India baru bisa menurunkan tarifnya terhadap barang-barang AS setelah perjanjian legal dan formal ditandatangani.
"Tahap pertama BTA hampir siap, dan kami berharap pernyataan bersama dapat final dalam beberapa hari ke depan," kata Goyal dalam laporan Reuters, Jumat (6/2). Goyal menambahkan, perjanjian legal formal juga sedang disiapkan, namun kemungkinan memerlukan waktu lebih lama untuk rampung.
Sekretaris Perdagangan India Rajesh Agrawal menjelaskan, perjanjian perdagangan bebas India selalu diikuti dengan pernyataan bersama, yang kemudian diubah menjadi perjanjian legal.
Baca Juga: Bank Sentral India Pertahankan Suku Bunga Usai Kesepakatan Dagang dengan AS Tercapai
Alokasi belanja
Dalam lima tahun ke depan, India menargetkan membeli barang senilai minimal US$ 500 miliar dari AS. Menurut Goyal, pertumbuhan ekonomi India membutuhkan pasokan besar energi, peralatan pusat data, produk ICT, hingga pesawat dan komponennya.
"Pesanan saat ini dan yang segera ditempatkan ke Boeing sudah mencapai US$ 70 miliar-US$ 80 miliar. Ditambah mesin dan suku cadang, bisa melampaui US$ 100 miliar," kata Goyal. Ia menekankan, investasi besar di pusat data juga membutuhkan peralatan yang signifikan.
Agrawal menambahkan, total impor India untuk barang-barang kritis ini dari seluruh dunia saat ini sudah lebih dari US$ 300 miliar, dan diperkirakan akan mencapai lebih dari US$ 2 triliun dalam lima tahun ke depan. "Jika US$ 500 miliar berasal dari AS, ini akan semakin menambah diversifikasi impor India," ujar Agrawal.
Meski ini menjadi langkah strategis, analis menilai bahwa pengurangan tarif AS melalui perintah eksekutif bisa menimbulkan ketidakpastian jangka panjang. Sementara itu, India yang menunggu perjanjian legal formal harus berhati-hati agar target impor dan investasi tidak terganggu oleh dinamika politik AS.
Bagi pasar global, pergerakan ini jadi indikator kuat pergeseran pola dagang India-AS, terutama dalam energi, ICT, dan industri penerbangan, yang bisa mempengaruhi rantai pasok global dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, Apa Dampaknya pada Perdagangan AS?













