Sumber: Telegraph | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Pantai Linkou di Taiwan utara tampak seperti pantai biasa. Pada hari-hari tertentu, nelayan berkumpul sambil berbincang tentang hasil tangkapan.
Lokasinya hanya sekitar 30 menit berkendara dari Taipei. Namun di balik suasana tenang itu, kawasan ini dinilai sebagai salah satu titik paling berbahaya di Taiwan, bahkan di dunia.
Linkou merupakan salah satu dari sekitar 20 “pantai merah”, istilah yang digunakan untuk menyebut kawasan pesisir Taiwan yang diperkirakan menjadi lokasi pendaratan pasukan China jika invasi militer terjadi.
Pantai ini memiliki nilai strategis tinggi karena berada dekat Bandara Internasional Taoyuan, Pelabuhan Taipei, serta muara Sungai Tamsui yang mengalir langsung ke pusat ibu kota.
Baca Juga: Tarif Trump Tak Menggigit: Ekspor China Justru Pecah Rekor Dunia
Peneliti senior Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Dr. Tzu-yun Su, menyebut penguasaan kawasan ini dapat memutus jalur utama konektivitas Taiwan ke Taipei.
“Hal itu berpotensi mengisolasi ibu kota, mengganggu pasokan logistik dan pangan, serta melemahkan moral. Dampaknya bisa menyerupai operasi kilat ala blitzkrieg,” ujarnya.
Ancaman tersebut kembali mengemuka setelah China menggelar latihan militer terbesarnya di sekitar Taiwan. Dalam latihan itu, Beijing menembakkan roket ke arah pulau tersebut dan mensimulasikan blokade pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Pelabuhan Taipei.
Pemerintah China menyebut latihan itu sebagai “peringatan keras” terhadap kekuatan pro-kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak luar.
Para analis memperkirakan, jika pasukan China berhasil mendarat di Linkou, meski skenario ini dinilai sangat sulit, akses ke pusat kendali utama Taiwan bisa dicapai dalam waktu kurang dari satu jam.
Baca Juga: Xi Jinping Pamer Kemajuan AI, China Tegaskan Target Ambil Alih Taiwan
Namun, invasi semacam itu tidak sederhana. Operasi tersebut akan membutuhkan ratusan ribu pasukan terlatih, armada laut dalam jumlah besar, serta perencanaan matang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Meski demikian, berbagai indikator menunjukkan Beijing tengah membangun kapasitas tersebut.
Kekuatan Laut yang Terus Diperkuat
China saat ini memiliki salah satu industri galangan kapal terbesar di dunia. Kapasitas pembangunan kapalnya diperkirakan jauh melampaui Amerika Serikat. Dengan anggaran pertahanan sekitar US$ 246 miliar pada 2025, China mengoperasikan sekitar 405 kapal perang, dibandingkan 295 kapal milik Angkatan Laut AS.
Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat, di tengah penurunan pendapatan sebagian besar perusahaan pertahanan China, sektor galangan kapal justru menunjukkan peningkatan signifikan.
Baca Juga: BI: Ekonomi Syariah Indonesia Masuk 3 Besar Dunia, Tapi Aset Perbankan Syariah 7,35%
Analis pertahanan Janes, Ridzwan Rahmat, menilai fokus modernisasi militer China kini bergeser ke domain maritim. “Ancaman utama China kini datang dari laut, termasuk sengketa Laut China Selatan dan klaim atas Taiwan,” ujarnya.
Presiden Xi Jinping menjadikan penyatuan kembali Taiwan sebagai salah satu agenda utama kepemimpinannya. Pernyataan soal Taiwan secara rutin disampaikan oleh pejabat tinggi China.
Ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama setelah Jepang dan Amerika Serikat menyatakan sikap yang dinilai Beijing sebagai bentuk campur tangan.












