kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Strategi China Mendaratkan Pasukan Terbesar di Dunia ke Taiwan


Senin, 05 Januari 2026 / 12:39 WIB
Strategi China Mendaratkan Pasukan Terbesar di Dunia ke Taiwan
ILUSTRASI. Kelompok tugas kapal induk Liaoning China (Dok/Kementerian Pertahanan China). Pantai Linkou di Taiwan utara tampak seperti pantai biasa. Pada hari-hari tertentu, nelayan berkumpul sambil berbincang tentang hasil tangkapan.


Sumber: Telegraph | Editor: Noverius Laoli

Meski memiliki ratusan kapal perang, armada amfibi militer China dinilai belum cukup untuk mendukung invasi besar-besaran. Karena itu, Beijing mengembangkan konsep kapal dwiguna, yakni kapal sipil yang dapat dialihfungsikan untuk keperluan militer.

Sejak 2015, galangan kapal sipil di China diwajibkan merancang kapal agar dapat digunakan militer dalam kondisi darurat. Jenis kapal yang dikembangkan mencakup kapal kontainer, roll-on/roll-off (ro-ro), kapal kargo, hingga kapal pengangkut berat.

Baca Juga: Petenis Janice Tjen Tembus 100 Ranking Besar Dunia, Ikuti Jejak Aldila Sutjiadi

Kapal ro-ro menjadi sorotan karena mampu mengangkut kendaraan militer dan peralatan berat langsung ke daratan. Produksi kapal jenis ini meningkat pesat, dengan sekitar 200 unit diperkirakan selesai antara 2023 hingga 2026.

Selain itu, China juga menguji kapal semi-submersible sebagai landasan helikopter. Dalam penyelidikan Reuters, sejumlah kapal ro-ro dan kapal kargo terpantau melakukan manuver yang menyerupai latihan pendaratan di perairan selatan China.

Tekanan Bertahap Sebelum Serangan

Sejumlah pakar menilai invasi China ke Taiwan kemungkinan tidak diawali pendaratan langsung. Alexander Huang, pakar strategi militer Taiwan, menyebut dua skenario utama.

Pertama, serangan siber dan sabotase infrastruktur penting untuk melumpuhkan sistem komunikasi dan komando Taiwan. Kedua, penerapan “karantina maritim” menggunakan kapal sipil dan penjaga pantai guna memutus pasokan energi dan logistik Taiwan secara bertahap.

Sebagai pulau, Taiwan sangat bergantung pada impor energi dan pangan. Para ahli memperkirakan cadangan energi Taiwan hanya mampu bertahan sekitar 40 hari jika jalur pasokan terputus.

Baca Juga: 8 Pompt Edit Foto Gemini AI dengan Nuansa Malam Tahun Baru di Kota Besar Dunia

China telah lama mempraktikkan tekanan semacam ini melalui operasi “zona abu-abu”, yakni pengerahan kapal dan pesawat dalam jumlah besar tanpa memicu konflik terbuka. 

Latihan militer terbaru dinilai sebagai bagian dari upaya membiasakan pasukan China dengan medan operasi di sekitar Taiwan.




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×