kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Sunyi, Antrean Panjang, dan Harga Gila: Potret Caracas Setelah Serangan AS


Rabu, 07 Januari 2026 / 08:13 WIB
Sunyi, Antrean Panjang, dan Harga Gila: Potret Caracas Setelah Serangan AS
ILUSTRASI. Ibu kota Venezuela yang biasanya ramai mendadak terasa sunyi pada Senin (5/1/2026), dua hari setelah Amerika Serikat membombardir kota itu. ( REUTERS/MARCO BELLO)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Caracas, Venezuela. Ibu kota Venezuela yang biasanya ramai mendadak terasa sunyi pada Senin (5/1/2026), dua hari setelah Amerika Serikat membombardir kota itu dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Meski suasana mencekam, sebagian warga Caracas tetap keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok. Namun, harga-harga melonjak tajam. Antrean panjang terlihat di toko-toko yang masih buka, sementara banyak pedagang memilih menutup usaha mereka karena khawatir terjadi kerusuhan dan penjarahan.

Al Jazeera memberitakan, pemerintah setempat mengimbau agar aktivitas ekonomi tetap berjalan normal. Namun kenyataannya, banyak warga justru menimbun bahan makanan pokok seperti tepung jagung, beras, dan makanan kaleng, sebagai antisipasi jika kondisi keamanan memburuk.

Di pasar sentral Quinta Crespo, antrean belasan orang terlihat di bawah terik matahari, dijaga aparat kepolisian untuk mencegah kericuhan. Seorang warga bernama Carlos Godoy (45) mengaku membeli kebutuhan dasar karena ketidakpastian yang dirasakan semua orang.

“Kami menunggu apa yang akan terjadi. Semua orang hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian,” ujarnya.

Ia menyebut susu bubuk menjadi salah satu barang termahal, dijual sekitar US$ 16 per kilogram. Warga lain, Betzerpa Ramírez, mengatakan dirinya tetap tenang, meski mengakui harga barang-barang kebersihan melonjak lebih tinggi dibanding makanan.

Baca Juga: Trump Buka Opsi Militer Rebut Greenland, Eropa Bereaksi Keras

Keluhan serupa disampaikan Alexandra Arismendi, pegawai toko ponsel di pusat perbelanjaan Sambil. Menurutnya, harga telur melonjak “tidak masuk akal”, mencapai US$ 10 per karton.

Rekannya, María Gabriela (23), mengatakan pusat perbelanjaan yang biasanya ramai kini nyaris kosong. Penjualan anjlok karena warga memilih bertahan di rumah. Ia bahkan memilih naik taksi ke tempat kerja karena takut menggunakan transportasi umum.

“Kami kira orang akan membeli power bank atau charger karena khawatir listrik padam, tapi ternyata tidak,” ujarnya. “Hari ini terasa sangat aneh.”

Lonjakan harga dan kelangkaan barang sebenarnya bukan hal baru bagi warga Venezuela. Selama satu dekade terakhir, mereka terbiasa hidup dengan inflasi tinggi dan pasokan terbatas, akibat kombinasi salah kelola ekonomi, korupsi, serta sanksi Amerika Serikat.

Pada masa pemerintahan Maduro, anjloknya harga minyak membuat ekonomi Venezuela yang bergantung pada sektor migas runtuh. Pada 2018, inflasi bahkan menembus 130.000 persen. Pandemi Covid-19 kemudian memperparah krisis, memicu kekurangan pangan dan obat-obatan.

Baca Juga: Venezuela Berencana Mengekspor Minyak ke AS, Alihkan Pasokan dari China

Pemerintah Venezuela sendiri sudah tidak merilis data inflasi sejak Maduro mengklaim kemenangan dalam pemilu kontroversial 2024.

Masih belum jelas apakah kondisi akan kembali normal pascaserangan AS. Pada Sabtu dini hari, militer AS melancarkan serangan ke sejumlah instalasi militer di Caracas dan wilayah sekitarnya. Menurut sumber anonim yang dikutip New York Times, sedikitnya 80 orang tewas.

Meski serangan berlangsung singkat, Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan “gelombang kedua” jika tuntutannya tidak dipenuhi. Pemerintah Venezuela pun menetapkan status darurat dan menegaskan Maduro tetap presiden sah, meski kini ditahan di AS.

Bagi Arismendi, ketegangan saat ini memang belum separah pascapemilu 2024, ketika ribuan orang turun ke jalan. Namun, ia merasa situasinya bisa dengan cepat memburuk.

“Kita belum sampai ke titik itu, syukurlah. Tapi rasanya tidak terlalu jauh juga,” katanya.

Tonton: Cadangan Minyak Venezuela Terbesar di Dunia, Terancam Dikuasai AS?

Kesimpulan

Serangan militer Amerika Serikat ke Caracas memperparah rasa ketidakpastian warga Venezuela, memicu antrean panjang, lonjakan harga kebutuhan pokok, dan perlambatan aktivitas ekonomi, meski krisis struktural sebenarnya telah lama menghantui negara itu jauh sebelum bom dijatuhkan.

Selanjutnya: Kian Melejit, Cek Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Rabu (7/1)

Menarik Dibaca: Kian Melejit, Cek Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Rabu (7/1)




TERBARU

[X]
×