Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Persaingan di industri kecerdasan buatan (AI) semakin bergeser ke perangkat pribadi.
Setelah AI selama ini banyak bergantung pada pusat data dan layanan komputasi awan (cloud), kini perusahaan chip terbesar dunia, Nvidia, mulai mendorong AI agar bisa berjalan langsung di laptop dan komputer desktop.
Langkah itu ditandai dengan peluncuran chip baru bernama RTX Spark yang diperkenalkan CEO Nvidia, Jensen Huang, menjelang pembukaan pameran teknologi terbesar Asia, Computex 2026, di Taipei, Taiwan.
Chip RTX Spark dirancang untuk menjalankan agen AI secara lokal di perangkat pengguna tanpa harus terus-menerus terhubung ke layanan cloud.
Teknologi ini memungkinkan komputer memproses berbagai tugas berbasis AI secara lebih cepat, privat, dan efisien.
Baca Juga: Nvidia Dikabarkan Akan Mengakuisisi Groq Senilai US$ 20 Miliar, Perkuat Chip AI
Huang mengatakan pengembangan RTX Spark merupakan hasil kolaborasi selama tiga tahun antara Nvidia dan untuk menciptakan generasi baru komputer yang dirancang khusus bagi era AI.
"Tujuannya adalah menemukan kembali konsep PC untuk era AI," kata Huang.
Analis menilai peluncuran RTX Spark berpotensi menjadi titik balik industri komputer pribadi.
Co-founder Counterpoint Research, Neil Shah, menyebut teknologi tersebut dapat mengubah PC yang selama ini berpusat pada aplikasi menjadi komputer pribadi berbasis AI yang mampu menjalankan berbagai agen digital secara mandiri.
Menurutnya, agen AI lokal akan menjadi fitur penting di rumah-rumah dalam beberapa tahun mendatang, sebagaimana smartphone dan chatbot AI mengubah cara masyarakat menggunakan teknologi.
Selain RTX Spark, Nvidia juga memperkenalkan prosesor baru bernama Vera. Produk ini menandai semakin agresifnya ekspansi Nvidia ke pasar central processing unit (CPU), segmen yang selama ini didominasi pemain seperti Intel dan Apple.
Baca Juga: Nvidia Pertimbangkan Tambah Produksi Chip AI H200 untuk China, Permintaan Melonjak
Vera dirancang untuk mendukung agen AI generasi berikutnya dan telah menarik minat sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, Anthropic.com, dan SpaceX.
Dalam paparan sebelumnya kepada investor, Huang menyebut pasar CPU AI yang kini dibidik Nvidia memiliki nilai hingga US$ 200 miliar. Ia meyakini Vera akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan.
Pesan yang dibawa Nvidia sejalan dengan pandangan Cristiano Amon, CEO Qualcomm yang juga hadir menjelang Computex.
Amon menyebut 2026 sebagai "tahun agen AI" karena teknologi AI mulai bergerak dari sekadar menjawab perintah pengguna menjadi sistem yang mampu bekerja secara mandiri dan terus aktif.
Menurutnya, perangkat komputasi saat ini pada dasarnya dirancang untuk merespons tindakan manusia. Namun, ketika agen AI mulai menjalankan tugas secara otomatis, kebutuhan pemrosesan lokal atau edge computing menjadi semakin penting.
Perubahan tersebut diyakini akan mengubah arsitektur laptop, komputer pribadi, hingga perangkat pintar lainnya dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan tenaga kerja manusia, Huang justru menilai teknologi tersebut akan meningkatkan kebutuhan tenaga ahli, terutama insinyur perangkat lunak.
Baca Juga: Bea Cukai China Larang Masuk Chip AI Nvidia H200, Pembelian Diminta Dibatasi
Menurut dia, AI membuat produktivitas pengembang meningkat sehingga mendorong perusahaan membangun lebih banyak produk dan layanan digital. Dampaknya, permintaan terhadap talenta teknologi justru berpotensi bertambah.
"Jumlah insinyur perangkat lunak justru meningkat. Anggapan bahwa AI akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja adalah hal yang keliru," ujarnya.
Kehadiran Huang di Taiwan juga menegaskan pentingnya pulau tersebut dalam rantai pasok industri AI global. Pekan lalu, ia bahkan mengumumkan rencana investasi sekitar US$150 miliar per tahun di Taiwan, yang disebutnya sebagai pusat revolusi AI dunia.
Peluncuran RTX Spark dan Vera sekaligus menunjukkan bahwa medan persaingan AI kini tidak lagi hanya berada di pusat data raksasa, tetapi mulai bergeser ke komputer pribadi.
Jika tren ini berlanjut, laptop dan PC masa depan berpotensi memiliki asisten AI yang bekerja langsung di perangkat pengguna tanpa harus selalu bergantung pada cloud.













