Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Heineken mengumumkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) Dolf van den Brink akan mengundurkan diri pada 31 Mei 2026, setelah hampir enam tahun memimpin produsen bir asal Belanda tersebut.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan investor yang menuntut perbaikan kinerja, seiring industri bir global masih berjuang mendorong pertumbuhan penjualan.
Van den Brink mulai menjabat sebagai CEO dan Ketua Dewan Eksekutif Heineken pada Juni 2020, tepat di tengah pandemi Covid-19.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan pada Rusia, Jerman Dorong Kerja Sama Keamanan dengan India
Sejak itu, ia memimpin perusahaan melewati periode yang penuh gejolak, mulai dari dampak pandemi hingga lonjakan inflasi biaya dan penurunan penjualan yang menekan margin, harga saham, serta imbal hasil bagi investor.
Dewan direksi Heineken kini akan memulai proses pencarian CEO baru. Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut Van den Brink akan tetap tersedia sebagai penasihat selama delapan bulan mulai Juni 2026.
Van den Brink dan Ketua Dewan Pengawas Heineken, Peter Wennink, sepakat bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat bagi perusahaan untuk melakukan transisi kepemimpinan, menyusul peluncuran strategi baru Heineken hingga 2030 pada Oktober lalu.
“Perusahaan telah mencapai tahap di mana transisi kepemimpinan akan paling efektif untuk mendukung pelaksanaan ambisi jangka panjang,” ujar Van den Brink.
Ia menegaskan tetap fokus menjalankan strategi tersebut hingga hari terakhir masa jabatannya.
Pasar merespons negatif kabar tersebut. Saham Heineken turun hampir 3% pada perdagangan awal Senin.
Baca Juga: Bursa Saham China Meroket ke Level Tertinggi Sejak 2015: Pemicu Reli AI & Dirgantara
Penjualan Bir Tertekan
Van den Brink menjadi CEO terbaru di sektor barang konsumsi yang mundur setelah beberapa tahun penuh tantangan.
Tekanan biaya hidup yang tinggi telah membebani daya beli konsumen, sementara produsen bir kesulitan meningkatkan volume penjualan.
Harapan pemulihan penjualan kerap terganjal berbagai faktor, mulai dari cuaca buruk hingga ketidakpastian politik.
Baca Juga: Goldman Proyeksikan Minyak Brent di US$56 dan WTI US$52 Secara Rata-Rata di 2026
Ke depan, industri juga dibayangi kekhawatiran munculnya pesaing baru, meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan yang berpotensi menekan konsumsi makanan dan minuman, serta perubahan sikap generasi muda terhadap alkohol.
Di bawah kepemimpinan Van den Brink, Heineken juga menghadapi gangguan operasional di sejumlah pasar pertumbuhan utama seperti Nigeria dan Vietnam, yang turut menekan kinerja keuangan. Selain itu, investor selama bertahun-tahun memberikan penalti terhadap saham Heineken karena perusahaan dinilai kerap meleset dari proyeksi kinerja ke depan.
Meski pembaruan strategi yang diumumkan Oktober lalu termasuk fokus pada merek dan pasar tertentu disambut positif oleh investor, sebagian pelaku pasar menilai Heineken masih perlu membuktikan kemampuannya dalam mengeksekusi strategi tersebut.
Baca Juga: Di Tengah Sorotan Kinerja, Singapura Bela Mandat GIC dan Temasek
“Van den Brink datang dengan ekspektasi tinggi, namun Heineken belum mampu memenuhi ekspektasi tersebut,” ujar analis RBC Capital Markets, James Edwardes Jones.
“Mungkin perubahan di pucuk pimpinan inilah yang dibutuhkan Heineken.”













