kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.862   19,00   0,11%
  • IDX 8.192   -73,59   -0,89%
  • KOMPAS100 1.154   -13,53   -1,16%
  • LQ45 828   -11,80   -1,41%
  • ISSI 294   -2,14   -0,72%
  • IDX30 431   -5,04   -1,16%
  • IDXHIDIV20 516   -5,47   -1,05%
  • IDX80 129   -1,64   -1,25%
  • IDXV30 142   -0,75   -0,52%
  • IDXQ30 139   -1,86   -1,32%

Tekanan Sanksi Barat Semakin Kuat, Rusia Terpaksa Pinjam & Naikkan Pajak


Rabu, 11 Februari 2026 / 09:53 WIB
Tekanan Sanksi Barat Semakin Kuat, Rusia Terpaksa Pinjam & Naikkan Pajak
ILUSTRASI. Penerimaan pajak minyak dan gas Rusia anjlok drastis, terendah sejak pandemi COVID-19. Kondisi ini menekan anggaran perang dan ekonomi negara. (KONTAN/Fenie Chintya)


Sumber: Euronews | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Sementara itu, harga minyak Rusia kini diperdagangkan dengan diskon besar. Pada Desember, diskon mencapai sekitar US$ 25 per barel. Harga minyak mentah utama Rusia, Urals, bahkan turun di bawah US$ 38 per barel, jauh di bawah harga Brent yang berada di kisaran US$ 62,5 per barel.

Karena pajak produksi minyak Rusia berbasis harga, kondisi ini secara langsung menggerus pendapatan negara.

Pertumbuhan Melambat, Anggaran Tertekan

Di luar sektor energi, ekonomi Rusia juga menghadapi tantangan serius. Pertumbuhan ekonomi mulai tersendat seiring terbatasnya dampak belanja perang dan semakin parahnya kekurangan tenaga kerja.

Produk domestik bruto (PDB) Rusia hanya tumbuh 0,1% pada kuartal ketiga. Proyeksi pertumbuhan 2026 berada di kisaran 0,6–0,9%, jauh di bawah capaian lebih dari 4% pada 2023 dan 2024.

“Kremlin khawatir dengan keseimbangan anggaran karena bertepatan dengan perlambatan ekonomi, sementara biaya perang tidak menurun,” kata Kluge.

Pajak Naik dan Utang Bertambah

Untuk menutup defisit, pemerintah Rusia menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 20% menjadi 22%, serta meningkatkan cukai impor mobil, rokok, dan alkohol. Pemerintah juga menambah pinjaman dari bank-bank domestik dan memanfaatkan dana cadangan kekayaan negara.

Meski kas negara masih cukup untuk saat ini, kenaikan pajak berisiko memperlambat pertumbuhan lebih lanjut. Sementara peningkatan utang dapat memperburuk inflasi, yang saat ini masih berada di kisaran 5,6% meski suku bunga acuan bank sentral tetap tinggi.

Tonton: Timur Tengah di Ambang Konflik, Inggris Kirim Jet Tempur Siluman F-35B ke Siprus

“Dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan, tekanan ini bisa memengaruhi cara Rusia menjalankan perang,” ujar Kluge. “Bukan berarti mereka akan mencari perdamaian, tetapi kemungkinan menurunkan intensitas konflik dan memperlambat perang karena biayanya semakin mahal.”

Selanjutnya: IHSG Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (11/2)

Menarik Dibaca: IHSG Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (11/2)




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×