CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

The Fed Beri Kepastian Kenaikan Suku Bunga, Bursa Asia Menguat


Kamis, 16 Desember 2021 / 17:23 WIB
The Fed Beri Kepastian Kenaikan Suku Bunga, Bursa Asia Menguat
ILUSTRASI. Nikkei menguat


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham di Asia Pasifik menguat pada perdagangan Kamis (16/12). Hal tersebut seiring dengan rencana Federal Reserve (The Fed) untuk mengakhiri pembelian obligasi pada Maret 2021.

Selain itu, bank sentral Amerika Serikat (AS) ini juga menegaskan suku bunga acuan akan naik dari level yang saat ini mendekati nol menjadi 0,90% pada akhir 2022 mendatang. Selanjutnya, suku bunga akan naik menjadi 1,6% pada 2023 dan 2,1% di tahun 2024.

Rencana tersebut mendapat sentimen positif dari investor di kawasan. Di Jepang, indeks Nikkei naik 1,67% dan menyentuh level tertinggi selama tiga minggu terakhir. Setali tiga uang, indeks Taiwan naik 0,62%.

Serupa, indeks MSCI juga bertambah 0,26% pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, bursa saham China daratan tergelincir, setelah indeks saham blue chip turun 0,12%.

Baca Juga: Mayoritas bursa Asia menguat pada Kamis (16/12), mengikuti kenaikan Wall Street

"Perekonomian tidak lagi membutuhkan peningkatan jumlah dukungan kebijakan. Dalam pandangan saya, kami membuat kemajuan pesat menuju lapangan kerja secara maksimal," kata Gubernur The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan moneter FOMC.

Hal tersebut turut mengerek imbal hasil obligasi AS dan dolar AS mulai stabil setelah sempat melemah. Tercatat, yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 1,4718%, menambah kenaikan pada Rabu (15/12).

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor acuan pun melonjak 3,7 basis poin menjadi 1,617%.

Hal yang sama terjadi pada harga komoditas minyak mentah AS dan Brent, masing - masing menguat sekitar US$ 1 menjadi US$ 71,85 dan US$ 74,78 per barel.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa pasar uang melihat peluang bagus untuk kenaikan pertama The Fed pada Mei, diikuti oleh lebih banyak lagi pada bulan September dan Desember. Meskipun suku bunga tiga perempat tidak sepenuhnya dihargai hingga Februari 2023.

Baca Juga: Pasar optimistis, bursa Asia kompak menguat hari ini

Perhatian sekarang beralih ke pengumuman politik dari European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) sebagai upaya menghadapi inflasi yang panas.

Bank sentral berusaha untuk menyeimbangkan kebutuhan untuk mendukung ekonomi yang terancam akibat Covid-19 dengan kebutuhan uang tunai masyarakat,

ECB diperkirakan akan menghidupkan kembali stimulus satu tingkat lagi, tetapi akan menjanjikan dukungan berlimpah untuk tahun depan, berpegang pada pandangan jangka panjangnya bahwa tekanan harga akan mereda dengan sendirinya.

Namun, investor telah meningkatkan taruhan mereka secara tajam bahwa BoE menaikkan suku bunga setelah inflasi harga konsumen Inggris naik pada November 2021 ke level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun terakhir, melampaui perkiraan semua ekonom.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×