Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden AS Donald Trump berjanji untuk memblokir pembayaran dividen atau buyback saham kontraktor pertahanan hingga mereka mempercepat produksi senjata. Pernyataan ini menyebabkan saham perusahaan pertahanan anjlok dan menandakan perubahan besar bagi kompleks industri militer Amerika.
Mengutip Reuters, Kamis (8/1/2026), Trump dan Pentagon telah mengkritik industri pertahanan atas tingginya biaya dan produksi yang lambat, dan telah berjanji akan melakukan perubahan dramatis untuk membuat produksi peralatan perang lebih gesit.
"Perusahaan Pertahanan tidak memproduksi Peralatan Militer Hebat kita dengan cukup cepat... dan, setelah diproduksi, tidak memeliharanya dengan benar atau cepat," tulis Trump di Truth Social pada hari Rabu.
Baca Juga: Lowongan Kerja AS Anjlok di November 2025, Sinyal Pelemahan Pasar Tenaga Kerja
Trump tidak mengatakan bagaimana ia akan menerapkan batasan pada dividen dan pembelian kembali saham, dan saham-saham pertahanan jatuh setelah pernyataannya, membalikkan kenaikan baru-baru ini setelah penggunaan peralatan militer AS yang mendapat sorotan publik untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya.
Trump juga menyebut paket gaji eksekutif di industri pertahanan "sangat tinggi dan tidak dapat dibenarkan," dan mengatakan bahwa gaji tersebut harus dibatasi hingga $5 juta, jauh lebih rendah daripada yang diperoleh banyak eksekutif.
"Mulai saat ini, para Eksekutif ini harus membangun Pabrik Produksi baru dan modern, baik untuk mengirimkan dan memelihara Peralatan penting ini, maupun untuk membangun Model terbaru dari Peralatan Militer masa depan," tulisnya tanpa menyebutkan perusahaan atau eksekutif tertentu.
Pembelian kembali saham adalah hal biasa di antara perusahaan pertahanan, dan beberapa di antaranya membayar dividen. Lockheed, misalnya, pada bulan Oktober menaikkan dividennya untuk tahun ke-23 berturut-turut, menjadi US$ 3,45 per saham. Pada saat yang sama, perusahaan tersebut mengizinkan pembelian kembali sahamnya hingga US$ 2 miliar, sehingga total jumlah yang dijanjikan untuk pembelian kembali saham menjadi US$ 9,1 miliar.
Baca Juga: AS Berupaya Sita Kapal Tanker Venezuela Berbedera Rusia
Pesawat tempur F-35 buatan Lockheed, salah satu program pertahanan AS yang paling mahal, telah dilanda kenaikan biaya dan penundaan. Banyak program pertahanan besar membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menghasilkan produk daripada yang dijanjikan semula dan dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Program rudal balistik antarbenua Sentinel senilai US$ 140 miliar yang akan menggantikan rudal Minuteman III yang sudah tua, yang dirancang dan dikelola oleh Northrop Grumman, akan tertunda bertahun-tahun dari jadwal dan melebihi anggaran sebesar 81%, kata militer AS tahun lalu.
Baik Lockheed maupun Northrop Grumman tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.













