Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (5/4/2026) meningkatkan tekanan terhadap Iran, dengan mengancam melalui unggahan media sosial bernada kasar bahwa ia akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada Selasa jika Selat Hormuz yang strategis tidak dibuka kembali.
“Hari Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, merujuk pada jalur pelayaran penting yang secara efektif telah ditutup Teheran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran lebih dari sebulan lalu.
“Buka Selat itu sekarang juga, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup dalam Neraka - TUNGGU SAJA!” tulis Trump, menutup unggahan pagi Paskahnya dengan kalimat: “Segala puji bagi Allah.”
Kemudian pada Minggu, dalam unggahan lanjutan, presiden memberikan tenggat waktu yang lebih jelas: “Selasa, pukul 8:00 malam Waktu Timur!”
Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan mengenai apakah Trump sedang menunjukkan waktu kapan Amerika Serikat akan menyerang Iran.
Melansir Reuters, ancaman Trump muncul setelah operasi penyelamatan intensif selama 48 jam terhadap dua pilot AS di dalam wilayah Iran. Trump mengatakan dalam unggahan media sosialnya pada Minggu sebelumnya bahwa pilot kedua yang berhasil diselamatkan mengalami luka serius dan merupakan seorang Kolonel yang “sangat dihormati”.
Baca Juga: Panel OPEC+ Sesalkan Serangan ke Infrastruktur Energi di Perang Iran
“Penyelamatan itu adalah Mukjizat Paskah,” kata Trump dalam pesan teks kepada program “Meet the Press” NBC News pada Minggu sebelum berangkat ke klub golfnya di Washington. “Penyelamatan seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah musuh yang begitu brutal.”
Dalam sedikitnya tujuh wawancara pada Minggu, Trump terus melontarkan ancaman terhadap Iran sambil mendorong adanya konsesi. Ia mengatakan kepada Fox News bahwa Iran sedang bernegosiasi dan kesepakatan mungkin tercapai pada Senin, tetapi jika tidak, ia akan “mengambil” minyak negara itu.
Dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengatakan konflik seharusnya selesai dalam hitungan hari, bukan minggu. Namun jika tidak, pemerintahannya akan meledakkan seluruh negara itu dan sangat sedikit hal yang tidak mungkin dilakukan.
Presiden juga mengunggah secara daring bahwa ia akan menggelar konferensi pers pada Senin bersama militer AS dari Ruang Oval.
Pekan lalu, presiden mengatakan Amerika Serikat akan melancarkan serangan agresif terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan dan hampir menyelesaikan tujuan strategis utamanya dalam perang. Sejak operasi dimulai pada 28 Februari, ia berulang kali menyatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan, meskipun kepemimpinan Iran belum menunjukkan kesediaan untuk memenuhi tuntutan Trump.
Pada Minggu, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap kepentingan ekonomi AS di kawasan akan ditingkatkan jika serangan terhadap target sipil di Iran kembali terjadi.
Baca Juga: Trump Akan Serang Infrastruktur Iran Selasa Besok Jika Tetap Blokir Selat Hormuz
Trump Fokus pada Infrastruktur Iran
Peringatan Trump pada Minggu Paskah yang menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran menyusul ancaman sebelumnya untuk menyerang pabrik desalinasi, yang menurut sejumlah pakar hukum internasional dapat melanggar hukum humaniter internasional.
“Saya tidak akan main-main dengannya jika saya orang Iran,” kata Ketua Komite Intelijen DPR AS Rick Crawford, seorang Republikan dari Arkansas dan veteran Angkatan Darat AS, dalam acara “Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo” di Fox News, menanggapi unggahan Trump. “Dia punya keberanian besar, dan dia tidak akan mundur.”
Namun pihak lain mengkritik retorika Trump karena dianggap sudah terlalu jauh.
Senator AS Tim Kaine, seorang Demokrat dari Virginia yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata, mendesak Trump agar “tolong turunkan tensi retorika.” Dalam “Meet the Press”, Kaine mengatakan bahasa Trump “memalukan dan kekanak-kanakan” serta meningkatkan risiko bagi personel militer AS.
“Semua orang di pemerintahannya yang mengaku Kristen harus berlutut dan memohon ampun kepada Tuhan, berhenti menyembah Presiden, dan campur tangan menghentikan kegilaan Trump,” tulis mantan anggota DPR AS Marjorie Taylor Greene, seorang Republikan dari Georgia yang sebelumnya menjadi salah satu pembela paling vokal Trump sebelum pengunduran dirinya baru-baru ini, dalam unggahan daring terkait bahasa presiden tersebut.
Dalam pernyataan di Instagram, Council of American-Islamic Relations menyatakan: “Penggunaan kalimat ‘Segala puji bagi Allah’ secara santai dalam konteks ancaman kekerasan mencerminkan kesediaan yang mengkhawatirkan untuk menjadikan bahasa agama sebagai senjata, sambil pada saat yang sama merendahkan Islam dan para pengikutnya.”
Tonton: Kendalikan Selat Hormuz: Senjata Iran Lebih Dahsyat dari Nuklir
Tiga belas personel militer AS telah tewas dan ratusan lainnya terluka di seluruh Timur Tengah sejak AS dan Israel melancarkan perang lebih dari sebulan lalu.
Iran merespons dengan memblokir Selat Hormuz, yang sangat krusial bagi transportasi minyak global, sehingga memicu lonjakan tajam harga minyak dan bensin bagi konsumen di seluruh dunia. Harga rata-rata bensin di AS mencapai US$ 4,11 per galon pada Minggu, menurut AAA, naik dari di bawah US$ 3 ketika serangan terhadap Iran dimulai.
“Iran menyadari bahwa, pada kenyataannya, kontrol mereka atas Selat itu bahkan lebih penting secara strategis bagi mereka dibanding pengembangan senjata nuklir,” kata anggota DPR AS Jake Auchincloss, seorang Demokrat dari Massachusetts dan veteran Korps Marinir AS, dalam acara “Fox News Sunday.”
Ia menambahkan bahwa meskipun Amerika Serikat tidak tertandingi secara militer dalam menghancurkan target, “secara strategis, perang ini telah menjadi kegagalan.”













