kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Trump dan Musk Dinilai Mengancam Bangsa, Ribuan Warga AS Turun ke Jalan


Sabtu, 05 April 2025 / 22:00 WIB
Trump dan Musk Dinilai Mengancam Bangsa, Ribuan Warga AS Turun ke Jalan
ILUSTRASI. Amerika Serikat akan menyaksikan gelombang demonstrasi terbesar dalam satu hari pada Sabtu waktu setempat. REUTERS/Eric Evans FOR EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVES.


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat akan menyaksikan gelombang demonstrasi terbesar dalam satu hari pada Sabtu waktu setempat, ketika lebih dari 1.200 aksi unjuk rasa bertajuk “Hands Off!” digelar serentak di seluruh negeri.

Aksi ini menjadi titik kulminasi kemarahan publik terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dan sekutunya, Elon Musk, yang dianggap tengah mendorong transformasi konservatif besar-besaran di pemerintahan federal.

Aksi yang diorganisasi oleh koalisi lebih dari 150 kelompok aktivis ini juga akan melibatkan partisipasi internasional, dengan protes terjadwal di Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Meksiko, dan Portugal, menunjukkan skala global dari kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump.

Baca Juga: Obama Akhirnya Buka Suara! 8 Kata Menohok Tanggapi Tarif Kontroversial Trump

Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible, organisasi progresif yang lahir dari penolakan terhadap terpilihnya Trump pada 2016, menegaskan tujuan utama aksi ini.

“Ini adalah demonstrasi besar yang mengirimkan pesan sangat jelas kepada Musk, Trump, dan semua sekutu MAGA di Kongres bahwa kami tidak ingin tangan mereka menyentuh demokrasi kami, komunitas kami, sekolah kami, teman dan tetangga kami,” kata Levin.

Fokus Protes: Penolakan terhadap Kebijakan Eksekutif dan Agenda Proyek 2025

Kembalinya Trump ke Gedung Putih pada 20 Januari menandai dimulainya kembali serangkaian perintah eksekutif yang kontroversial, yang oleh para pengkritik dianggap sebagai bagian dari “Project 2025”—sebuah inisiatif politik konservatif untuk menata ulang birokrasi pemerintah dan memperkuat kekuasaan presiden.

Trump telah mengeluarkan kebijakan yang mencakup:

  • Pemecatan aparatur sipil non-partisan

  • Pengetatan kebijakan imigrasi dan deportasi massal

  • Pembatalan perlindungan terhadap hak transgender

  • Intervensi terhadap protes kampus, khususnya terkait isu Palestina dan Gaza

Baca Juga: Donald Trump Dikecam Usai Unggah Video Serangan Udara terhadap Houthi di Yaman

White House: Trump Lindungi Program Sosial, Justru Demokrat yang Mengancam

Terkait tudingan bahwa Trump berencana memotong dana Jaminan Sosial (Social Security) dan Medicaid, asisten sekretaris pers Gedung Putih, Liz Huston, memberikan bantahan tegas melalui pernyataan resmi.

“Presiden Trump akan selalu melindungi Jaminan Sosial, Medicare, dan Medicaid untuk penerima yang memenuhi syarat. Justru pihak Demokrat yang berencana memberikan manfaat tersebut kepada imigran ilegal, yang akan membuat program ini bangkrut dan menghancurkan masa depan lansia Amerika,” ujar Huston melalui email.

Namun, para aktivis menilai pernyataan ini sebagai upaya pengalihan isu, mengingat langkah-langkah konkret Trump justru menunjukkan upaya konsolidasi kekuasaan dan pengetatan anggaran publik.

Partisipasi Kelompok Pro-Palestina dan Serikat Buruh Perbesar Skala Gerakan

Aksi protes juga akan melibatkan kelompok pro-Palestina yang menentang dukungan AS terhadap serangan militer Israel di Gaza serta penindasan terhadap kebebasan berpendapat di kampus-kampus.

Selain itu, Serikat Pekerja Internasional Sektor Jasa (SEIU) yang mewakili sekitar 2 juta buruh, Human Rights Campaign (HRC) sebagai organisasi advokasi LGBTQ terbesar di AS, dan kelompok lingkungan Greenpeace, telah menyatakan komitmen mereka untuk bergabung dalam unjuk rasa.

Baca Juga: Perang Dagang AS-China Ancam Stabilitas Ekonomi Global, Ini Peringatan The Fed

Salah satu titik konsentrasi terbesar diperkirakan terjadi di National Mall, Washington D.C., lokasi simbolik bagi demonstrasi massa sejak era hak-hak sipil.

Meskipun skala protes tidak sebesar Women's March tahun 2017, para penggerak menyatakan bahwa koordinasi lintas organisasi tahun ini menandai strategi persatuan gerakan progresif untuk menghadapi masa jabatan Trump yang baru.

Indivisible, MoveOn, dan Working Families Party menjadi motor utama dalam menyatukan berbagai spektrum gerakan kiri—mulai dari aktivis hak asasi manusia, pekerja, hingga lingkungan.

Selanjutnya: Kursi Dubes RI di AS Kosong Hampir 2 Tahun Sejak Rosan Jadi Wamen BUMN

Menarik Dibaca: Infinix Note 40 HP Keren dengan Spesifikasi Mantap, Cuma 2 Jutaan!


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×