Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Negara-negara Uni Eropa (UE) pada Senin (26/1/2026) memberikan persetujuan final terhadap rencana pelarangan impor gas Rusia, membuka jalan bagi kebijakan tersebut untuk resmi berlaku sebagai undang-undang di kawasan tersebut.
Kebijakan ini menjadikan komitmen UE untuk memutus ketergantungan energi dari Rusia sebagai kewajiban hukum, hampir empat tahun setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.
Persetujuan diberikan dalam pertemuan para menteri UE di Brussels. Meski demikian, Slovakia dan Hungaria tercatat menolak kebijakan tersebut. Hungaria bahkan menyatakan akan membawa keputusan ini ke Mahkamah Eropa (European Court of Justice).
Pengesahan aturan ini menggunakan mekanisme mayoritas diperkuat (reinforced majority), yang memungkinkan kebijakan tetap lolos meskipun mendapat penolakan dari beberapa negara anggota. Hungaria dan Slovakia diketahui masih sangat bergantung pada pasokan energi Rusia dan cenderung menjaga hubungan dekat dengan Moskow.
Baca Juga: Serangan Rusia Lumpuhkan Pemanas di Kyiv, 1.700 Gedung Masih Tanpa Panas
Berdasarkan kesepakatan tersebut, UE akan menghentikan impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Rusia paling lambat akhir 2026. Sementara itu, impor gas Rusia melalui jaringan pipa (pipeline gas) akan dihentikan paling lambat 30 September 2027.
Namun, aturan ini memberikan fleksibilitas waktu hingga 1 November 2027, apabila suatu negara mengalami kesulitan mengisi fasilitas penyimpanan gasnya dari sumber non-Rusia menjelang musim dingin.
Sebelum perang Ukraina, Rusia memasok lebih dari 40% kebutuhan gas UE. Namun, berdasarkan data terbaru UE, porsi tersebut telah turun drastis menjadi sekitar 13% pada 2025.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam peta energi Eropa, sekaligus mempertegas upaya blok tersebut untuk mengurangi pengaruh Rusia dalam sektor energi dan memperkuat ketahanan pasokan energi dari sumber alternatif.













