WHO Dukung Paxlovid Pfizer untuk Terapi Covid-19 Pasien Berisiko Tinggi

Jumat, 22 April 2022 | 09:00 WIB Sumber: Reuters
WHO Dukung Paxlovid Pfizer untuk Terapi Covid-19 Pasien Berisiko Tinggi

ILUSTRASI. WHO pada Kamis (21/4/2022) mendukung penggunaan pengobatan antivirus Covid-19 oral Pfizer pada pasien berisiko tinggi. REUTERS/Denis Balibouse


KONTAN.CO.ID - LONDON/GENEVA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (21/4/2022) mendukung penggunaan pengobatan antivirus Covid-19 oral Pfizer pada pasien berisiko tinggi. Hal ini dilakukan setelah analisis data hasil uji coba oleh badan PBB menunjukkan terapi tersebut secara dramatis mengurangi risiko rawat inap.

Reuters memberitakan, rekomendasi itu muncul ketika ribuan orang meninggal karena Covid-19 setiap minggu, meskipun tingkat infeksi global berkurang.

"Dari perawatan Covid-19 yang ada, Paxlovid dari Pfizer sejauh ini adalah yang paling manjur," kata WHO.

Terapi lain termasuk pil dari merek pesaing Merck & Co yakni molnupiravir, remdesivir intravena Gilead Sciences dan perawatan antibodi.

Analisis WHO terhadap dua uji klinis Paxlovid yang melibatkan hampir 3.100 pasien menunjukkan bahwa hal itu mengurangi risiko rawat inap hingga 85%.

Baca Juga: Ini Gejala Umum dan Tingkat Keparahan Omicron XE, Wajib Tahu

Pada pasien berisiko tinggi - mereka yang memiliki lebih dari 10 persen risiko rawat inap - menggunakan Paxlovid dapat menyebabkan rawat inap 84 lebih sedikit per 1.000 pasien, kata badan tersebut.

"Terapi ini tidak menggantikan vaksinasi. Mereka hanya memberi kami pilihan pengobatan lain untuk pasien yang terinfeksi yang berisiko lebih tinggi," kata Janet Diaz, pemimpin manajemen klinis WHO. 

WHO merujuk pada pasien dengan kondisi kronis yang mendasarinya, immunocompromised atau tidak divaksinasi.

Baca Juga: Sudah Tahu Soal Gejala Umum dan Tingkat Keparahan Omicron XE? Ini Penjelasannya

Namun, ada tantangan yang dapat membatasi adopsi Paxlovid. Mengingat perlu dilakukan pada tahap awal penyakit agar efektif, akses untuk uji coba yang cepat dan akurat sangat penting dalam mengidentifikasi pasien. 

Selain itu, Paxlovid belum diteliti untuk digunakan pada wanita hamil, wanita menyusui atau anak-anak. Faktor-faktor ini telah menyebabkan pasokan Paxlovid melampaui permintaan di negara-negara yang telah menyediakannya selama beberapa waktu.

Pfizer telah, dan terus, mencapai kesepakatan untuk menjual perawatan Covid-19 di sejumlah negara. Akan tetapi, detail seputar harga sebagian besar tetap dirahasiakan.

Awal tahun ini, perusahaan mengatakan pihaknya memperkirakan Paxlovid akan menghasilkan penjualan senilai US$ 22 miliar pada tahun 2022.

Produsen obat AS telah setuju untuk menjual hingga 4 juta pengobatan ke Unicef ​​untuk digunakan di 95 negara berpenghasilan rendah yang mencakup lebih dari setengah populasi dunia. 

Kesepakatan ini menyumbang lebih dari 3 persen dari proyeksi produksi 120 juta obat Pfizer tahun ini.

Baca Juga: Belum Kelar Isu Varian Omicron XE, Muncul Lagi Varian XJ di Thailand

Lebih dari 30 pembuat obat generik juga telah diizinkan untuk memproduksi versi obat yang lebih murah untuk dijual di 95 negara. Namun versi peniru dari sumber yang terjamin kualitasnya ini tidak akan siap dalam jangka pendek, kata WHO. 

Transparansi bisa berarti negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah akan terdesak ke ujung antrian, seperti yang terjadi pada vaksin Covid-19.

Secara terpisah, WHO juga memperbarui rekomendasinya tentang remdesivir Gilead, dengan mengatakan obat tersebut harus digunakan pada pasien Covid-19 ringan atau yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit. 

Sebelumnya, WHO merekomendasikan penggunaannya pada semua pasien Covid-19, terlepas dari tingkat keparahan penyakitnya.

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru