Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Status Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia tetap tidak berubah meski kehilangan lebih dari US$100 miliar dalam dua bulan terakhir.
Situasi ini dialami Musk setidaknya sejak pertengahan bulan Desember 2024, ketika muncul aksi jual saham Tesla. Gerakan ini masih terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Kekayaan Musk telah menurun lebih dari US$100 miliar atau sekitar 25% sejak saat itu. Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires per 28 Februari 2025, kekayaan Musk saat ini ada di angka US$352,2 miliar, turun 1,39% dari hari sebelumnya.
Mengutip NBC, saham Tesla ditutup turun 8% lagi menjadi US$302,80 pada hari Selasa (25/2). Angka itu turun 25% dari tahun sebelumnya.
Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia Tahun 2025: Elon Musk di Puncak, Disusul Zuckerberg & Bezos
Menurut Gary Black, pengelola di grup investasi The Future Fund, saham Tesla bisa jatuh lebih jauh tahun ini mengingat adanya revisi dalam panduan manajemen perusahaan Tesla terkini tentang pengiriman pada tahun 2025.
Di saat yang sama, masih ada banyak investor yang yakin bahwa saham Tesla bisa melonjak kembali, karena melihat Musk sebagai sosok yang sangat cakap.
Rencana Tesla untuk melahirkan mobil listrik murah sebagai pesaing merek China juga diyakini mampu membuat perusahaan tersebut kembali untung.
"Produk unggulan Tesla, kendaraan baru yang lebih terjangkau, yang saya yakini akan menjadi faktor bentuk baru dan memperluas total pasar Tesla, dan janji otonomi tanpa pengawasan akan menjual lebih banyak Tesla," kata Black dalam cuitannya di X.
Baca Juga: Musk Ancam Pecat Pekerja Federal AS yang Tidak Laporkan Hasil Kerjanya
Sentimen Konsumen Eropa
Penurunan nilai saham Tesla ini diduga terjadi karena pembelian mobil Tesla di Eropa anjlok, turun 45% tahun-ke-tahun untuk bulan Januari.
Situasi ini jelas sangat buruk, mengingat penjualan kendaraan listrk secara global sebenarnya sedang tumbuh.
Di Eropa pun, penjualan kendaraan listrik secara keseluruhan sedang melonjak hingga 37%.
Beberapa laporan juga menunjukkan, banyak konsumen Eropa sengaja memboikot produk Tesla karena Musk aktif di dalam pemerintahan Presiden AS, Donald Trump.
Musk "dihadiahi" Trump jabatan pemimpin Department of Government Efficiency (DOGE) yang bertugas untuk melakukan efisiensi anggaran setiap lembaga negara.
Tonton: Inilah Negara Asia Tenggara yang Sangat Rentan dengan Tarif Timbal Balik AS