Alami Krisis Ekonomi Parah, Sri Lanka Menyatakan Butuh US$5 Miliar untuk Enam Bulan

Rabu, 08 Juni 2022 | 11:02 WIB Sumber: Reuters
Alami Krisis Ekonomi Parah, Sri Lanka Menyatakan Butuh US$5 Miliar untuk Enam Bulan

ILUSTRASI. Warga antre membeli tangki bensin domestik di dekat distributor, di tengah krisis ekonomi negara, di Kolombo, Sri Lanka, 1 Juni 2022.

KONTAN.CO.ID - COLOMBO. Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, pada hari Selasa (7/6) mengatakan bahwa negaranya membutuhkan US$5 miliar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam enam bulan ke depan. Negara yang tengah ditempa krisis ekonomi ini masih mengharapkan bantuan dari sejumlah negara.

Dilansir dari Reuters, untuk mengatasi krisis ekonominya Sri Lanka membutuhkan sekitar US$3,3 miliar untuk impor bahan bakar, US$900 juta untuk makanan, US$250 juta untuk gas masak, dan US$600 juta lainnya untuk pupuk sepanjang tahun ini.

PM Wickremesinghe menjelaskan bahwa bank sentralnya telah memperkirakan ekonomi Sri Lanka akan berkontraksi sebesar 3,5% pada tahun 2022.

"Saya yakin pertumbuhan dapat kembali dengan paket reformasi yang kuat, restrukturisasi utang, dan dukungan internasional. Kita harus mencapai stabilitas ekonomi pada akhir tahun 2023," kata Wickremesinghe.

Baca Juga: Menyerah, Perdana Menteri Sri Lanka Mengundurkan Diri

Sri Lanka dilanda krisis ekonomi terburuknya dalam tujuh dekade. Kondisi ini menyebabkan negara Asia Selatan tersebut kekurangan devisa yang menghentikan impor barang-barang penting seperti bahan bakar, obat-obatan dan pupuk.

Beragam masalah ekonomi dan komoditas tersebut pada akhirnya mendorong devaluasi, protes jalanan, hingga pergantian pemerintahan.

Negara dengan populasi 22 juta tersebut kini sedang merundingkan paket pinjaman senilai sekitar US$3 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai tambahan. Sri Lanka juga masih melobi negara-negara seperti China, India, dan Jepang untuk bisa mendapatkan bantuan.

Baca Juga: UNDP Minta Sri Lanka Berikan Program Bantuan Tunai Sementara Tanpa Syarat ke Warganya

Kabinet Sri Lanka pada hari Selasa telah menyetujui batas kredit senilai US$55 juta dari Bank Exim India mendanai mendanai 150.000 ton impor urea. Langkah ini dianggap sangat penting karena persediaan telah habis di tengah musim tanam saat ini.

Sri Lanka juga melakukan negosiasi ulang dengan China mengenai persyaratan swap dalam mata uang yuan senilai US$1,5 miliar yang telah disepakati tahun lalu.

PBB ikut turun tangan dengan membuat seruan publik di seluruh dunia untuk Sri Lanka pada hari Rabu (8/6) ini. PBB juga telah menjanjikan US$48 juta untuk makanan, pertanian dan, kesehatan

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru