kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

Isu Iran Kembali Panaskan Relasi Dagang AS–China


Selasa, 13 Januari 2026 / 20:53 WIB
Diperbarui Selasa, 13 Januari 2026 / 21:00 WIB
Isu Iran Kembali Panaskan Relasi Dagang AS–China
ILUSTRASI. Bendera AS-China. (DW.com/DW.com)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 25% terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran berisiko membuka kembali ketegangan lama antara Washington dan Beijing, mitra dagang terbesar Teheran.

Iran sebelumnya menjadi salah satu titik panas hubungan AS–China pada masa jabatan pertama Trump periode 2017–2021.

Saat itu, Washington memperketat sanksi terhadap Iran dan membidik Huawei, perusahaan teknologi raksasa China yang dituduh menjual teknologi ke Republik Islam tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Stabil di Dekat Rekor US$ 4.600 per Ons Troi Jelang Rilis Data Inflasi AS

Penangkapan Meng Wenzhou, putri pendiri Huawei, di Kanada atas permintaan AS memicu aksi balasan dari Beijing dan krisis sandera diplomatik.

Ketegangan itu meninggalkan luka mendalam dalam hubungan kedua negara hingga akhir pemerintahan pertama Trump.

Kini, dengan Iran kembali menjadi sasaran, kebijakan tarif tersebut berpotensi membuat barang China yang masuk ke AS dikenai bea masuk lebih dari 70%.

Angka ini melampaui tarif efektif sekitar 57,5% yang berlaku sebelum Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai kesepakatan de-eskalasi perang dagang pada Oktober lalu.

Namun hingga kini, Trump belum menjelaskan negara mana saja yang akan dikenai tarif tambahan tersebut dan belum secara eksplisit menyebut China.

Sejumlah pengamat juga mencatat, Trump kerap melontarkan ancaman kebijakan luar negeri tanpa selalu menindaklanjutinya.

Baca Juga: Inflasi AS di Desember 2025 Mencapai 2,7% Secara Tahunan, Sesuai Konsensus Prediksi

“China akan memanggil gertakan Trump. Saya yakin Trump tidak punya keberanian untuk benar-benar mengenakan tarif tambahan 25% terhadap China. Jika itu terjadi, China akan membalas dan Trump akan menerima konsekuensinya, seperti pada kasus Meng Wenzhou,” ujar Wu Xinbo, Dekan Institute of International Studies Universitas Fudan.

Kembali ke Isu Lama

Sejumlah pakar di China mempertanyakan mengapa Trump kembali mengangkat isu Iran, salah satu kebijakan luar negeri paling kontroversial pada masa jabatan pertamanya, meski langkah-langkah sebelumnya telah membuat Beijing lebih berhati-hati dalam memberi dukungan ekonomi ke Teheran.

“Hubungan China dan Iran tidak sedekat yang sering dibayangkan publik,” ujar seorang akademisi di Beijing yang menjadi penasihat kebijakan Iran bagi Kementerian Luar Negeri China, yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Data bea cukai China menunjukkan impor dari Iran telah turun tajam dalam beberapa tahun terakhir karena perusahaan-perusahaan China khawatir terkena sanksi AS. Selama 11 bulan pertama tahun lalu, China hanya mengimpor barang Iran senilai US$2,9 miliar, jauh di bawah puncaknya US$21 miliar pada 2018 saat Trump pertama kali menjabat.

Baca Juga: Ancaman Penjara Seumur Hidup Hantui Taipan Media di Hong Kong Usai Sidang Mitigasi

Meski demikian, China masih menyerap sekitar 80% minyak Iran yang dikirim ke luar negeri, terutama melalui kilang independen skala kecil yang beroperasi di luar pembukuan resmi untuk menghindari sanksi AS terkait program nuklir Iran.

Perusahaan minyak milik negara China sendiri tercatat tidak lagi berbisnis dengan Iran sejak 2022. Namun sejumlah analis memperkirakan nilai total transaksi China–Iran tetap mencapai puluhan miliar dolar AS.

“China hanyalah alasan, semacam kedok bagi pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran,” kata Wang Jin dari lembaga pemikir Beijing Club for International Dialogue.

Menanggapi ancaman tarif Trump, Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing akan “secara tegas melindungi hak dan kepentingan sahnya”.

Baca Juga: Mantan Presiden Korsel Yoon Dituntut Hukuman Mati Atas Pemberlakuan Darurat Militer

Taruhan Besar

Meski demikian, Iran tetap menjadi mitra yang jauh lebih signifikan bagi China dibanding Venezuela, di mana Trump sebelumnya berupaya membatasi pengaruh Beijing, termasuk melalui operasi penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Para analis menilai upaya terbaru Trump untuk memutus Iran dari arus perdagangan global berpotensi meningkatkan sorotan terhadap prakarsa Belt and Road Initiative (BRI) China, di mana Iran merupakan simpul strategis jalur distribusi barang China ke Timur Tengah.

Langkah ini juga menambah ketidakpastian terkait rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang, yang sebelumnya diperkirakan akan diikuti pengumuman kesepakatan dagang besar dengan Xi Jinping.

Baca Juga: Thailand Bidik Gray Money, Perketat Pengawasan Emas dan Kripto dalam Satu Kerangka

“Apakah tarif Trump bisa benar-benar ditegakkan masih menjadi tanda tanya,” kata Xu Tianchen, analis Economist Intelligence Unit di Beijing.

Ia mengingatkan bahwa pada tahun lalu Trump juga mengumumkan tarif terkait perdagangan minyak Rusia, namun penerapannya tidak konsisten.

“Trump dikenal gemar menekan pihak yang lebih lemah. Ia perlu mengelola langkahnya agar kebijakan tarif ini tidak berkembang menjadi konfrontasi langsung dengan China,” pungkas Xu.

Selanjutnya: Jangan Sampai Salah Desain! Ini 5 Risiko Dapur Terbuka yang Mengganggu

Menarik Dibaca: Jangan Sampai Salah Desain! Ini 5 Risiko Dapur Terbuka yang Mengganggu




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×