Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Militer Amerika Serikat mengerahkan ribuan tambahan Marinir ke Timur Tengah. Sejumlah pejabat mengatakan kepada Reuters pada Jumat (20/3/3036), langkah ini terjadi di tengah tudingan Presiden Donald Trump yang menyebut sekutu NATO bersikap “pengecut” karena enggan mengirim pasukan untuk membantu membuka Selat Hormuz.
Selat sempit tersebut merupakan jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Namun, sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran hampir tiga pekan lalu, jalur ini praktis tertutup bagi sebagian besar aktivitas pelayaran.
Tak hanya itu, infrastruktur energi penting di Iran dan negara-negara Teluk di sekitarnya juga ikut menjadi sasaran serangan. Dampaknya, harga minyak melonjak sekitar 50% sejak awal konflik pada 28 Februari, memicu kekhawatiran akan guncangan ekonomi global.
Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas, sebagian besar di Iran dan Lebanon. Sementara itu, warga Amerika mulai merasakan dampak kenaikan harga yang tajam dan semakin khawatir perang ini bisa meluas.
Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan hampir dua pertiga warga Amerika meyakini Trump akan mengirim pasukan ke perang darat skala besar. Namun, hanya 7% yang mendukung langkah tersebut.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah melancarkan dua gelombang besar serangan udara ke Teheran dan wilayah Iran tengah. Targetnya meliputi fasilitas produksi senjata serta lokasi penyimpanan peluncur rudal balistik dan komponennya.
Baca Juga: Bukan Cuma Indonesia, Ini Daftar Negara yang Lebarannya Sabtu, 21 Maret 2026
Iran membalas dengan meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal ke Israel. Sirene peringatan serangan udara terdengar di Tel Aviv dan Yerusalem, disertai ledakan dari sistem pertahanan yang mencegat rudal.
Pecahan rudal Iran bahkan dilaporkan jatuh di dekat Kota Tua Yerusalem, kawasan yang suci bagi umat Kristen, Yahudi, dan Muslim. Meski demikian, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.
Di kawasan Teluk, perusahaan minyak negara Kuwait menyebut kilang Mina Al-Ahmadi diserang drone hingga menyebabkan beberapa unit terbakar. Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian target energi yang disasar Iran dalam beberapa hari terakhir.
Pengerahan pasukan meningkat
Tiga pejabat AS menyebut sekitar 2.500 Marinir akan dikirim ke kawasan tersebut, bersama kapal serbu amfibi USS Boxer dan sejumlah kapal perang pendamping. Namun, belum dijelaskan secara rinci peran mereka.
Dua pejabat lainnya menegaskan belum ada keputusan apakah pasukan akan dikirim langsung ke wilayah Iran. Sebelumnya, sumber Reuters menyebut target potensial bisa mencakup wilayah pesisir Iran atau pusat ekspor minyak di Pulau Kharg.
Trump menyatakan AS hampir mencapai tujuan militernya, yaitu melemahkan kekuatan militer Iran dan mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir. Ia juga membuka kemungkinan mengurangi intensitas operasi militer.
Namun, Trump kembali mengkritik sekutu AS yang dinilai tidak mau terlibat langsung dalam upaya membuka Selat Hormuz, konflik yang menurut mereka tidak dikonsultasikan sebelumnya.
Baca Juga: Kebijakan Baru Pentagon: Ribuan Mantan Prajurit AS Bisa Kembali Bertugas
Beberapa negara sekutu menyatakan siap mendukung upaya menjaga keamanan pelayaran, tetapi Jerman dan Prancis menegaskan bahwa konflik harus dihentikan terlebih dahulu. Kanselir Jerman Friedrich Merz dijadwalkan berbicara dengan Trump akhir pekan ini.
Sementara itu, pemerintah Inggris mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang lokasi rudal Iran yang menargetkan kapal di Selat Hormuz.
Lebaran dan Tahun Baru Persia di tengah konflik
Ketegangan ini terjadi saat umat Muslim merayakan Idul Fitri dan masyarakat Iran memperingati Nowruz, Tahun Baru Persia.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan perlawanan. Ia belum terlihat di publik sejak serangan Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari pertama perang.
Menurutnya, rakyat Iran merespons dengan persatuan dan perlawanan serta berhasil memberikan “pukulan yang membingungkan” kepada musuh.
Pejabat AS dan Israel menyebut Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas, meskipun serangan udara selama berminggu-minggu telah melemahkan kekuatan militer dan menguras persediaan rudal serta drone.
Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang Haifa dan Tel Aviv menggunakan rudal multi-hulu ledak, serta meluncurkan drone ke pangkalan militer AS, termasuk di Bahrain. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak militer AS.
Media Iran juga melaporkan Menteri Intelijen Esmail Ahmadi tewas, menjadi salah satu dari banyak tokoh penting yang disebut terbunuh dalam operasi Israel.
“Kami tidak punya siapa pun untuk diajak bicara. Dan kami menyukainya seperti itu,” kata Trump.
Tonton: Lonjakan Harga Gas 35% di Eropa: Dampak Serangan LNG Iran?Israel & Risiko Stagflasi
Harga energi melonjak jelang pemilu AS
Lonjakan harga bahan bakar di AS berpotensi menggerus dukungan politik Trump, terutama saat Partai Republik bersiap menghadapi pemilu kongres pada November.
Harga minyak Brent sempat mendekati US$ 110 per barel setelah melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan besar terhadap pasokan energi global.
Aliran minyak mentah dan produk turun sekitar 12 juta barel per hari, atau sekitar 12% dari permintaan global, akibat pemangkasan produksi dan penghentian ekspor oleh negara-negara Teluk.
Kondisi ini sulit digantikan dalam waktu cepat, sehingga dampaknya diperkirakan akan terasa dalam jangka panjang.
Selain itu, ladang gas besar di Qatar terganggu akibat serangan Iran. Irak juga menyatakan keadaan force majeure untuk seluruh ladang minyak yang dikelola perusahaan asing.













