kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

AS hentikan produksi vaksin AstraZeneca di pabrik Baltimore, ini penyebabnya


Minggu, 04 April 2021 / 09:08 WIB
AS hentikan produksi vaksin AstraZeneca di pabrik Baltimore, ini penyebabnya
ILUSTRASI. Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menghentikan operasional pabrik manufaktur di Baltimore yang merusak 15 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. Dalam laporannya, New York Times menyebut, penghentian produksi ini hanya dilakukan untuk vaksin AstraZeneca. 

Sabtu (3/4), berdasarkan laporan, penghentian tersebut terkait kecerobohan pabrik tersebut dalam mencampur bahan untuk vaksin yang akhirnya merusak sekitar 15 juta dosis vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. 

Pabrik yang dikelola perusahaan biofarmasi Emergent BioSolutions ini sebelumnya menjadi mitra untuk memproduksi vaksin Johnson & Johnson dan AstraZeneca. 

Badan Administrasi AS pun telah menetapkan Johnson & Johnson yang bertanggung jawab atas pabrik yang bermasalah itu. 

Baca Juga: Bangladesh, Kenya, Pakistan, dan Filipina masuk daftar merah Covid-19 di Inggris

Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan AS pun berniat menjadikan pabrik Emergent BioSolutions tersebut hanya dikhususkan untuk membuat vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson. Ini dimaksudkan untuk menghindari percampuran bahan baku di masa depan, menurut laporan tersebut, yang mengutip dua pejabat senior kesehatan federal.

Johnson & Johnson mengatakan pihaknya "memikul tanggung jawab penuh", mengkonfirmasikan perubahan tersebut, tambah laporan New York Times yang dikutip Reuters.

Selanjutnya: PBB: Masih ada ketidakadilan dalam distribusi vaksin Covid-19 secara global




TERBARU

[X]
×