kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

AS Mulai Lepas dari China, Tapi Dunia Masih Terjebak Rare Earth Beijing


Rabu, 26 November 2025 / 04:32 WIB
AS Mulai Lepas dari China, Tapi Dunia Masih Terjebak Rare Earth Beijing
ILUSTRASI. Pembangunan proyek rare earth bernilai miliaran dolar di berbagai negara diperkirakan akan membantu Amerika Serikat mengurangi ketergantungannya pada pasokan China. Foto Wikipedia/USDA


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pembangunan proyek rare earth bernilai miliaran dolar di berbagai negara diperkirakan akan membantu Amerika Serikat mengurangi ketergantungannya pada pasokan China. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengurangi dominasi Beijing bagi sebagian besar negara lain.

Berdasarkan analisis Reuters atas data International Energy Agency (IEA), China masih diperkirakan memasok sekitar 60% kebutuhan rare earth global untuk produksi magnet pada 2030. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat kemungkinan mampu memenuhi sekitar 95% kebutuhan nasionalnya dari produksi dalam negeri.

Namun, proyeksi ini bergantung pada asumsi bahwa seluruh proyek rare earth yang sedang dikembangkan dapat selesai dibangun dan beroperasi sesuai jadwal. Para ahli mengingatkan, membangun tambang dan fasilitas pemurnian baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, biayanya sangat besar, serta sulit mencari peralatan yang tidak berasal dari China. Selain itu, pasar juga kekurangan tenaga ahli.

Estimasi IEA juga hanya mencakup empat dari 17 unsur rare earth. China masih memegang peran dominan dalam pemrosesan heavy rare earths, subkelompok yang lebih jarang tetapi penting dalam teknologi strategis. 

Baca Juga: Strategi AS Bangun Rantai Pasok Rare Earth Terancam Gagal — China Tetap Penguasa

Diperkirakan pada 2030, negara-negara Barat masih bergantung pada China hingga 91% untuk kebutuhan kelompok unsur tersebut.

“Pada 2030, kita masih akan menghadapi masalah,” ujar Neha Mukherjee, manajer riset di Benchmark Minerals. “Bedanya, jika semua proyek yang sedang direncanakan bisa beroperasi tepat waktu, maka tingkat masalahnya akan lebih kecil dibanding kondisi sekarang.”

Tonton: China Tunda Aturan Ekspor Logam Tanah Jarang dan Lanjutkan Impor Kedelai AS

Kesimpulan 

Proyek rare earth baru di berbagai negara membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk hampir mandiri dalam pemenuhan kebutuhan mineral kritis, namun dominasi China tetap sulit digeser secara global. Hambatan teknis, waktu pembangunan, dan penguasaan teknologi pemrosesan membuat pasar internasional masih akan bergantung pada Beijing hingga setidaknya satu dekade ke depan.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×