Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) diperkirakan mulai mengubah strategi penerbitan surat utang pemerintah pada 2027.
Salah satu opsi yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah mengurangi penerbitan obligasi bertenor panjang, yakni 20 tahun dan 30 tahun, serta meningkatkan pasokan surat utang dengan tenor lebih pendek hingga menengah.
Perubahan komposisi penerbitan tersebut diperkirakan dapat membantu membatasi kenaikan biaya pinjaman jangka panjang pemerintah AS.
Baca Juga: Negosiasi Damai Iran-AS Buntu, Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah Membayangi
Pasalnya, pengurangan pasokan obligasi di ujung panjang kurva imbal hasil atau yield curve berpotensi meredakan tekanan terhadap imbal hasil obligasi tenor panjang yang masih bertahan tinggi.
Meski demikian, Departemen Keuangan AS diperkirakan belum akan mengubah ukuran lelang obligasi pada pengumuman pembiayaan kuartalan pekan ini. Pelaku pasar justru mencermati kemungkinan perubahan kebijakan yang baru diterapkan pada 2027.
Dealer utama atau primary dealers secara umum memperkirakan Departemen Keuangan AS akan memangkas ukuran lelang obligasi tenor 20 tahun dan 30 tahun pada tahun depan.
Sebagai kompensasi, penerbitan surat utang tenor dua tahun hingga 10 tahun diperkirakan ditingkatkan untuk menutup kebutuhan pembiayaan.
Departemen Keuangan AS dijadwalkan merilis estimasi pembiayaan kuartalan pada Senin (2/11), sebelum mengumumkan rencana penerbitan obligasi pada Rabu.
Baca Juga: Morgan Stanley Prediksi Koreksi Bursa Saham AS Segera Berakhir
Pengumuman tersebut mencakup rencana pembiayaan pemerintah untuk kuartal IV-2026 dan tiga bulan pertama 2027, termasuk ukuran lelang surat utang tenor tiga tahun, 10 tahun, dan obligasi 30 tahun.
Kepala Strategi Suku Bunga AS BNP Paribas di New York Guneet Dhingra mengatakan, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan penerbitan obligasi tenor panjang telah terbentuk menjelang pengumuman tersebut.
"Ekspektasi telah terbentuk bahwa Departemen Keuangan AS mungkin memberikan sinyal mengenai sejumlah perubahan dalam pengumuman pembiayaan kali ini, terutama pemangkasan ukuran lelang obligasi tenor panjang," kata Dhingra.
Namun, ia mengingatkan bahwa Departemen Keuangan AS sebelumnya telah menyatakan akan mempertahankan ukuran penerbitan obligasi kupon tetap selama beberapa kuartal ke depan.
Karena itu, perubahan kemungkinan baru dilakukan setelah periode tersebut, atau paling cepat pada Agustus 2027.
Baca Juga: Iran Buka Peluang Perundingan Damai, Harga Minyak Dunia Merosot 6%
Penerbitan Surat Utang Jangka Pendek Meningkat
Spekulasi mengenai perubahan komposisi penerbitan obligasi menguat setelah Departemen Keuangan AS meminta masukan dari primary dealers mengenai kemungkinan penyesuaian ukuran lelang pada masa mendatang.
Permintaan tersebut mempertimbangkan proyeksi kebutuhan pinjaman pemerintah dan permintaan investor.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS diperkirakan masih akan mengandalkan penerbitan surat utang jangka pendek atau Treasury bills untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam beberapa kuartal mendatang.
Baca Juga: Manufaktur Inggris Menguat, Namun Kenaikan Biaya Produksi Membayangi
TD Securities memperkirakan pasokan bersih Treasury bills mencapai US$ 678 miliar untuk periode November 2026 hingga Januari 2027.
Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg, mengatakan peningkatan pasokan surat utang jangka pendek, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, serta berkurangnya aliran dana dari reksadana pasar uang telah mendorong kenaikan imbal hasil instrumen tersebut.
"Kami memperkirakan ketergantungan yang besar terhadap penerbitan surat utang jangka pendek akan terus berlanjut," ujar Goldberg.
Dalam jangka menengah, Wells Fargo memperkirakan porsi Treasury bills dalam total pasar surat utang pemerintah AS dapat mencapai 24%.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan level sebelum pandemi, tetapi mendekati rata-rata pasca-Perang Dunia II sebesar 23%.
Sebagai pembanding, Komite Penasihat Pinjaman Departemen Keuangan AS atau Treasury Borrowing Advisory Committee (TBAC) merekomendasikan agar porsi Treasury bills dipertahankan pada kisaran 15% hingga 20%.
Baca Juga: Hacker Serang Sistem Pendingin Supermarket di Eropa, Suhu Freezer Tembus 50 Derajat
Defisit Anggaran AS Masih Jadi Sorotan
Rencana penerbitan surat utang tersebut berlangsung di tengah kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang relatif stabil.
Sejak pengumuman pembiayaan kuartalan terakhir pada Agustus, belum banyak perubahan dalam proyeksi kebutuhan pinjaman pemerintah.
Defisit anggaran AS pada tahun fiskal 2026 tercatat sebesar US$ 1,992 triliun. Sementara itu, J.P. Morgan memperkirakan defisit pada tahun fiskal 2027 mencapai US$ 1,960 triliun, relatif tidak berubah dari proyeksi sebelumnya.
Kepala Strategi Suku Bunga Global J.P. Morgan Jay Barry mengatakan, proyeksi tersebut belum banyak dipengaruhi hasil pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS yang digelar Selasa (3/11). Pemilihan tersebut akan menentukan komposisi kekuasaan di Kongres AS.
Menurut Barry, peluang terbentuknya pemerintahan terbelah atau divided government cukup besar. Kondisi tersebut berpotensi membuat pemerintah lebih sulit meloloskan paket kebijakan fiskal berskala besar.
Baca Juga: Freezer Supermarket di Swedia Mendadak Panas, Diduga Akibat Serangan Siber
"Sebagian besar skenario mengarah pada beberapa bentuk pemerintahan terbelah dan lingkungan yang kurang kondusif untuk meloloskan paket fiskal secara luas, meskipun kami melihat risiko peningkatan belanja jika Partai Republik tetap menguasai kedua kamar Kongres," kata Barry dalam laporan risetnya.
Meski perubahan komposisi penerbitan obligasi berpotensi memengaruhi pasokan dan imbal hasil, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut bukan satu-satunya faktor penentu arah yield obligasi jangka panjang AS.
Strategi Suku Bunga AS Wells Fargo Angelo Manolatos mengatakan, penurunan imbal hasil obligasi tenor panjang lebih bergantung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan ekspektasinya, serta penurunan harga energi.
"Untuk membuat imbal hasil obligasi turun, kita perlu melihat perlambatan pertumbuhan dan ekspektasi pertumbuhan. Kita juga membutuhkan harga energi yang lebih rendah, dan faktor-faktor itulah yang akan menjadi pendorong utama penurunan yield obligasi tenor panjang," ujar Manolatos.














