Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Empat astronot yang sedang kembali dari sisi jauh Bulan dalam misi Artemis II NASA akan menggelar konferensi pers pertama mereka dari luar angkasa pada Rabu (8/4/2026) waktu setempat.
Kru Artemis II, yang terbang dengan kapsul Orion sejak diluncurkan dari Florida pekan lalu, mencapai Bulan awal pekan ini.
Mereka melintasi sisi jauh Bulan yang gelap sebelum menjadi manusia yang menempuh jarak terjauh dari Bumi dalam sejarah.
Baca Juga: Nikkei Jepang Tergelincir Kamis (9/4) Pagi, Optimisme Gencatan AS-Iran Memudar
“Sistem Orion berjalan normal, semua kru dalam kondisi sehat, dan kami sedang menempuh perjalanan pulang dari Bulan,” kata Debbie Korth, wakil manajer program Orion, kepada wartawan dilansir dari Reuters.
Astronot NASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan astronot Kanada Jeremy Hansen merupakan gelombang pertama dalam rangkaian misi multimiliar dolar di bawah program Artemis.
Program ini bertujuan membawa manusia kembali ke permukaan Bulan pada 2028, sebelum China, sekaligus membangun kehadiran jangka panjang AS dengan basis bulan yang mendukung misi potensial ke Mars.
Baca Juga: Walt Disney Dikabarkan Pangkas 1.000 Karyawan, Fokus Efisiensi di Divisi Pemasaran
Di Bumi, puluhan ilmuwan lunar memantau misi ini dari ruang-ruang dekat Mission Control Center NASA di Houston, mencatat dan mendiskusikan audio langsung maupun terekam dari kru Artemis II di Orion.
Astronot dijadwalkan kembali ke Bumi pada Jumat sekitar pukul 20.00 ET (Sabtu 00.00 GMT), mendarat di lepas pantai San Diego, California, menutup misi hampir 10 hari mereka. Mereka akan mencapai kecepatan puncak hingga 38.365 km/jam saat memasuki atmosfer Bumi.
Pada Senin, keempat astronot ini mencapai jarak rekor sekitar 252.000 mil dari Bumi, melampaui 4.000 mil dari rekor sebelumnya yang dipegang Apollo 13 selama 56 tahun.
Rekor itu tercapai selama flyby lunar enam jam, di mana mereka mengamati permukaan Bulan dari sekitar 6.400 km di atasnya.
Biasanya, kemajuan ilmu lunar bergantung pada satelit orbit Bulan dan observasi dari Bumi.
Baca Juga: Harga Emas Stabil di US$4.715 Kamis (9/4) Pagi, Menunggu Kejelasan Gencatan Senjata
Namun, flyby enam jam ini memungkinkan aliran data ilmiah langsung dari mata manusia, serta interaksi langsung antara tim di Bumi dan kru di luar angkasa sejauh 252.000 mil.
“Bulan adalah ‘piring saksi’ terbentuknya Tata Surya kita,” kata spesialis misi Artemis II, Christina Koch, sebelum peluncuran.
Para ilmuwan melihat misi Artemis II sebagai langkah awal penting untuk membuka misteri pembentukan Tata Surya.













