Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Tim penyelamat Nepal menggunakan helikopter untuk mencari ratusan orang yang masih hilang setelah longsoran lumpur dan bebatuan menghantam sungai di perbatasan Nepal-China, memicu banjir dahsyat di sejumlah kota dan lembah. Sedikitnya 162 orang tewas dalam bencana tersebut.
Pejabat pariwisata Nepal mengatakan, lebih dari 400 warga negara asing termasuk dalam 579 wisatawan yang masih dinyatakan hilang setelah bencana menerjang wilayah yang ramai dikunjungi pendaki dan peziarah.
Baca Juga: Nikkei Berbalik Melemah Kamis (27/8), Saham Pemasok Nvidia Advantest Tertekan
Juru bicara kepolisian Nepal Abi Narayan Kafle mengatakan jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah seiring pencarian kembali dilakukan.
"Jumlah ini akan bertambah karena kami telah melanjutkan pencarian dan lebih banyak jenazah diperkirakan akan ditemukan," kata Kafle kepada Reuters.
Sunil Sharma, juru bicara Nepal Tourism Board, mengatakan 47 wisatawan yang hilang berasal dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris dan 24 dari Kanada.
Sementara itu, di wilayah Gyirong, Tibet, China, penyiar pemerintah CCTV melaporkan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Belum diketahui apakah angka tersebut tumpang tindih dengan data korban yang diumumkan Nepal.
Video yang telah diverifikasi menunjukkan derasnya aliran air, lumpur dan bebatuan menyapu puluhan orang di kawasan perbatasan Gyirong. Di wilayah Nepal, rumah, jalan serta proyek pembangkit listrik ikut tersapu banjir.
Baca Juga: Ritel Fesyen Shein Bersiap IPO, Target Raup US$ 1,73 Miliar
Korban Ceritakan Dahsyatnya Banjir
Keshav Prasad Baral, seorang korban selamat berusia 68 tahun, menceritakan bagaimana lumpur menerjang rumahnya.
"Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar datang langsung ke arah kami. Semakin mendekat, lumpur semakin tinggi. Ketika saya melihat lumpur masuk ke rumah, saya mencoba meraih tangan istri saya dan membawanya ke teras. Namun, dia tersapu lumpur," kata Baral yang kini dirawat di rumah sakit.
Baral berhasil dievakuasi menggunakan helikopter sekitar empat jam kemudian.
"Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia sudah tiada," ujarnya.
Korban selamat lainnya mengatakan dirinya menyelamatkan diri dengan berpegangan pada pohon mangga sembari menyaksikan rumah tempatnya bekerja lenyap diterjang banjir.
Baca Juga: Mata Uang Asia Beragam, Dolar Taiwan dan Won Korea Selatan Menguat
Bantuan Darurat Mulai Disalurkan
Di distrik yang paling terdampak, helikopter mulai menjatuhkan tenda, makanan dan berbagai kebutuhan darurat yang disediakan India.
Juru bicara militer Nepal Raja Ram Basnet mengatakan bantuan tersebut mulai didistribusikan kepada para korban.
Laporan awal pejabat Nepal sempat menyebut gempa bumi mungkin menyebabkan bagian bawah gletser runtuh dan memicu banjir.
Baca Juga: Mata Uang Asia Beragam, Dolar Taiwan dan Won Korea Selatan Menguat
Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian mengatakan aktivitas seismik yang awalnya dilaporkan sebagai gempa berkekuatan 4,4 sebenarnya merupakan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es gletser, yang kemudian diikuti aliran material longsoran.
Banyak korban diketahui sedang melakukan perjalanan ziarah ke Kailash Mansarovar, situs berketinggian tinggi di Tibet yang dianggap suci oleh umat Hindu dan Buddha.
Gunung Kailash, yang diyakini umat Hindu sebagai tempat tinggal Dewa Siwa, berada di tepi Danau Mansarovar yang juga dianggap sakral oleh sejumlah agama.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan mengirim penasihat tanggap bencana serta memberikan bantuan senilai US$500.000.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan negaranya terus memantau situasi dan menyebut banjir tersebut sebagai bencana yang "sangat menghancurkan".
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengatakan tim PBB dan mitra kemanusiaan mulai mengirimkan bantuan serta personel untuk mendukung masyarakat Nepal yang terdampak.
China sebelumnya melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang di Gyirong. Namun, angka tersebut masih dalam proses verifikasi di tengah operasi penyelamatan.
Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 8 Hari, Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Menguat
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan 34 warga Australia termasuk dalam daftar orang hilang.
"Ini adalah Nepal, negara berkembang. Mereka tidak memiliki sumber daya seperti yang dimiliki Australia untuk menghadapi kejadian seperti ini, sehingga informasi menjadi sulit diperoleh," kata Albanese.
Korea Selatan juga melaporkan delapan warganya yang bekerja di sebuah proyek pembangkit listrik tenaga air hilang. Malaysia dan Jepang turut melaporkan sejumlah warga negaranya belum ditemukan.
Jalan dan Infrastruktur Hancur
Rekaman kamera keamanan di sisi China menunjukkan warga berlarian menyelamatkan diri ketika aliran batu, lumpur dan air menerjang bangunan serta kendaraan.
Di wilayah Nuwakot dan Dhading, warga berkumpul di luar pusat pelatihan militer Nepal yang menjadi basis operasi penyelamatan menggunakan helikopter. Mereka mencari informasi mengenai anggota keluarga yang hilang.
Baca Juga: Qantas Catat Pemulihan Permintaan Penerbangan Australia-AS
Polisi mencatat nama-nama korban yang hilang menggunakan lampu dari telepon seluler setelah aliran listrik terputus akibat kerusakan pada pembangkit listrik tenaga air.
Lapisan lumpur menutupi rumah, pepohonan dan kendaraan di wilayah terdampak. Helikopter terus beroperasi untuk mengevakuasi korban selamat.
Analisis awal citra satelit Planet Labs menunjukkan longsoran es dan batu memicu banjir yang membawa material debris di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perlintasan perbatasan Rasuwagadhi antara Nepal dan China.
Rekaman televisi memperlihatkan rumah-rumah yang runtuh, mobil yang terseret arus serta jembatan logam yang hanyut. Saksi mata mengatakan air menenggelamkan seluruh permukiman.
"Di mana pun kami melihat, yang ada adalah kehancuran," kata Tula Bahadur BK, tenaga kesehatan di Rasuwa.
"Permukiman di sepanjang sungai benar-benar tersapu. Lima kerabat saya sendiri masih hilang," ujarnya.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Tiga Hari Beruntun, Saham Teknologi Terdongkrak Kinerja Nvidia
Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan longsoran menghantam pelabuhan Gyirong dan memutus akses jalan, komunikasi serta jaringan listrik di wilayah perbatasan Shigatse.
Seorang penyelamat mengatakan kepada CCTV bahwa upaya menghubungi pelabuhan Gyirong belum membuahkan hasil.
"Sejauh ini belum ada hasil," katanya.
Pemeriksaan menggunakan drone juga menunjukkan seluruh jalan menuju perlintasan perbatasan tersebut hancur total, menambah tantangan bagi tim penyelamat yang masih berupaya menjangkau wilayah terdampak.














