kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Begini cara orang-orang kaya dunia meningkatkan kekayaan mereka di masa pandemi


Kamis, 23 Juli 2020 / 13:46 WIB
Begini cara orang-orang kaya dunia meningkatkan kekayaan mereka di masa pandemi
ILUSTRASI. FILE PHOTO: The logo of Swiss bank UBS is seen in Zurich, Switzerland October 25, 2018. REUTERS/Arnd Wiegmann/File Photo


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -   ZURICH/LONDON. Orang-orang kaya dunia selalu saja melihat peluang dalam kesulitan. Sebagaimana dipraktikkan keluarga-keluarga kaya nasabah Swiss Bank UBS akhir-akhir ini saat pandemi Covid-19 terjadi.

Mereka mamanfaatkan kejatuhan pasar dengan mengumpulkan saham-saham bagus dari seluruh dunia dan menjualnya saat pasar rebound. Para miliarder ini tak sungkan meminjam uang dari bank untuk meningkatkan daya beli mereka.

Setelah berhasil mengumpulkan dan kemudian menjual saham di harga tinggi, para keluarga kaya itu mulai memindahkan sebagian uang mereka ke bank. Mereka meraup keuntungan besar hanya dalam waktu singkat dari Maret sampai Mei 2020.

Mengutip Reuters,  saat pasar saham jatuh pada Maret 2020 di seluruh dunia, para nasabah terkaya UBS mengambil pinjaman miliaran dolar untuk mengoleksi saham-saham bagus yang hancur.

Baca Juga: Bill Gates kembali rebut posisi orang terkaya kedua dunia

Karena aksi beli saham ini, pasar saham dunia kemudian rebound cepat dan mereka kemudian menjual saham itu pada Mei lalu memegang uang tunai dan menempatkan keuntungannya dalam aset pribadi dan sebagian untuk membayar bunga pinjaman bank, kata Kepala Kantor Keluarga global UBS Josef Stadler kepada Reuters.

Strategi membeli saham saat pasar jatuh ini telah membantu sejumlah kantor keluarga (family offices) yang mengelola urusan keuangan hedge fund terkaya di dunia dan pasar secara keseluruhan menikmati keuntungan melebih target mereka pada bulan Mei.

"Kami memiliki catatan pinjaman yang ditulis selama pertengahan Maret dan pertengahan April, dari kantor keluarga yang signifikan yang meminta kami untuk neraca dan kemudian pergi ke pasar," kata Josef Stadler dalam sebuah wawancara.

Baca Juga: Warren Buffett raup keuntungan hampir Rp 600 triliun dari kenaikan saham Apple

"Mereka membeli, misalnya, ekuitas AS, tetapi mereka tidak membeli US$ 50 juta. Mereka membeli satu miliar lebih dari ekuitas itu untuk menyeimbangkan kembali. Dan mereka menghasilkan banyak uang," tambahnya.

Saat ini, para miliarder yang telah meraup keuntungan besar dari kenaikan pasar yang cepat, tengah mencari  bentuk investasi lain yang lebih aman. 

Sekarang mereka berinvestasi di real estat perumahan atau membuat kesepakatan dengan perusahaan strategis yang butuh dana. Stadler mengatakan tren tersebut mulai terlihat di Asia. Sebagai konsekuensinya, ia berharap pasar ekuitas melunak di sepanjang sisa tahun ini.

Namun ia mengatakan, dalam jangka panjang, kurang dari setengah kantor keluarga yang disurvei UBS tetap ingin meningkatkan alokasi investasi mereka dalam bentuk ekuitas dalam dua sampai tiga tahun ke depan.

Baca Juga: Para investor top dunia memperingatkan akan kehancuran pasar yang lebih besar

Ditanya apakah kerusuhan di Hong Kong dan ketegangannya dengan China daratan telah mempengaruhi keputusan investasi, Stadler mengatakan UBS tidak melihat uang kantor keluarga pindah dari Hong Kong ke yurisdiksi lain.

"Mereka membuat pengaturan mereka bertahun-tahun yang lalu, di mana mereka ingin menempatkan diri mereka di peta," katanya, menambahkan bahwa klien seperti itu cenderung menyimpan uang mereka di berbagai yurisdiksi dan mendasarkan keputusan mereka pada strategi jangka panjang.




TERBARU

[X]
×