Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Amerika Serikat, meski tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, tetap berkewajiban memasok senjata untuk membantu pertahanan Taiwan. Departemen Luar Negeri AS menyebut penjualan senjata ini penting untuk menjaga stabilitas politik dan keseimbangan militer di kawasan.
Taiwan sendiri terus memperkuat pertahanannya. Presiden Lai Ching-te berencana menaikkan belanja pertahanan hingga US$ 40 miliar, termasuk pembelian sistem pertahanan udara senilai £500 juta dari Raytheon bulan lalu.
Sanksi ini diumumkan menjelang rencana kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang. Presiden China Xi Jinping juga dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Washington pada 2026.
Tonton: Angka PHK Tembus 79.302 Orang Per November 2025, Jabar Tertinggi
Kesimpulan
Sanksi China terhadap Boeing menegaskan meningkatnya eskalasi konflik geopolitik antara Beijing dan Washington, dengan Taiwan sebagai titik paling sensitif. Meski dampak ekonomi langsungnya terbatas, langkah ini merupakan sinyal politik keras bahwa China siap membalas setiap dukungan militer AS ke Taiwan. Ke depan, ketegangan ini berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Asia-Pasifik serta memperbesar risiko konflik terbuka antara dua kekuatan besar dunia.













