Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Laju belanja modal alias capital expenditure (capex) perusahaan-perusahaan Jepang nyaris stagnan pada kuartal pertama 2026 setelah mencatat ekspansi kuat selama setahun terakhir. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong revisi turun terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang di tengah meningkatnya kekhawatiran atas dampak konflik di Timur Tengah.
Perang yang melibatkan Iran telah mengguncang prospek ekonomi global dan meningkatkan risiko bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan harga energi akibat konflik tersebut mulai memberikan tekanan terhadap dunia usaha maupun konsumen.
Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Kazutaka Maeda, mengatakan hasil terbaru menunjukkan pelemahan dibandingkan ekspektasi pasar.
Baca Juga: Resmi Diperkenalkan, PLX Asia bakal Fokus pada Ekosistem Merek Privat
"Data ini lebih lemah dari perkiraan dan mencerminkan penurunan setelah periode pertumbuhan yang kuat sebelumnya," ujarnya.
Meski demikian, Maeda menilai investasi perusahaan tidak akan mengalami penurunan tajam dalam waktu dekat karena masih adanya kebutuhan investasi untuk efisiensi tenaga kerja dan otomatisasi. Namun, prospeknya tetap bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah.
Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan belanja modal pada kuartal pertama hanya naik 0,047% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh melambat dibandingkan kenaikan 6,5% pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan dan telah disesuaikan secara musiman, investasi bahkan turun 2%.
Data investasi bisnis ini akan menjadi salah satu komponen utama dalam perhitungan revisi Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang yang dijadwalkan dirilis pada 8 Juni mendatang.
Menurut Maeda, angka tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama kemungkinan akan direvisi lebih rendah dari estimasi awal yang menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 2,1%, didorong oleh kuatnya ekspor dan konsumsi domestik.
Investasi sektor manufaktur tercatat turun 0,4% secara tahunan. Pelemahan ini terutama dipicu oleh berkurangnya investasi di sektor peralatan informasi dan komunikasi serta industri otomotif setelah ekspansi kapasitas produksi yang agresif pada tahun lalu.
Baca Juga: China Perketat Investasi Luar Negeri, Transfer Teknologi Kini Diawasi Ketat
Di sisi lain, penjualan perusahaan meningkat 1,1% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara laba berulang (recurring profit) melonjak 14,6%.
Rekor Belanja Modal
Meskipun pertumbuhannya melambat, total belanja modal perusahaan Jepang mencapai rekor kuartalan baru sebesar ¥ 18,8 triliun atau sekitar US$ 117,9 miliar. Investasi perusahaan merupakan salah satu indikator utama pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik.
Dalam beberapa tahun terakhir, investasi bisnis tetap kuat karena perusahaan berupaya mengatasi kekurangan tenaga kerja kronis akibat populasi Jepang yang terus menua.
Selain itu, berakhirnya era deflasi di Jepang turut mendorong perubahan perilaku korporasi. Banyak perusahaan mulai menggunakan cadangan kas besar yang selama ini disimpan untuk ekspansi usaha dan investasi baru.
Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi berupaya mempercepat tren tersebut melalui pemberian insentif pajak bagi investasi modal serta peningkatan belanja pemerintah di sektor-sektor strategis, termasuk semikonduktor dan industri perkapalan.
Pemerintah juga tengah merevisi pedoman tata kelola perusahaan dengan mendorong korporasi untuk memastikan cadangan kas digunakan secara produktif guna mendukung investasi dan pertumbuhan, bukan hanya mengendap di neraca keuangan.
Jepang menargetkan nilai investasi modal perusahaan mencapai ¥ 200 triliun per tahun pada 2040, atau sekitar dua kali lipat dari level saat ini.
Baca Juga: AS dan Vietnam Sepakat Hindari Manipulasi Mata Uang, Perkuat Transparansi Pasar Valas
Namun dalam jangka pendek, analis Mizuho Securities memperingatkan penyesuaian kebijakan moneter serta ketegangan di Timur Tengah kemungkinan masih akan menahan laju pertumbuhan investasi domestik Jepang.













