kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.821   -79,00   -0,47%
  • IDX 7.987   51,32   0,65%
  • KOMPAS100 1.126   9,01   0,81%
  • LQ45 817   1,49   0,18%
  • ISSI 283   4,81   1,73%
  • IDX30 425   -1,30   -0,30%
  • IDXHIDIV20 511   -4,10   -0,80%
  • IDX80 126   0,70   0,56%
  • IDXV30 139   -0,21   -0,15%
  • IDXQ30 138   -0,78   -0,56%

Bukan Militer: Ray Dalio Peringatkan Perang Global Jenis Baru


Minggu, 08 Februari 2026 / 11:06 WIB
Bukan Militer: Ray Dalio Peringatkan Perang Global Jenis Baru
ILUSTRASI. Peringatan Ray Dalio mengejutkan: dunia di ambang perang global, tapi bukan militer. Apa bentuk ancaman finansial yang dimaksud? (Dok./REUTERS)


Sumber: Money Wise | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Miliarder hedge fund Ray Dalio mengeluarkan peringatan keras soal meningkatnya risiko “perang modal”, situasi di mana negara-negara menggunakan arus dana dan aset keuangan sebagai senjata geopolitik.

Melansir Money Wise, berbicara di World Governments Summit di Dubai, Dalio mengatakan dunia berada sangat dekat dengan fase baru konflik global yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga finansial.

“Kita berada di ambang,” kata Dalio. “Belum sepenuhnya masuk, tapi kita sudah sangat dekat dengan perang modal. Dengan ketakutan yang saling berbalasan, sangat mudah untuk terjerumus ke sana.”

Ketegangan Global Jadi Pemicu

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan global. Dalio menyinggung dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Greenland sebagai salah satu potensi titik gesekan antara Amerika Serikat dan Eropa.

Ia menilai, investor Eropa yang memegang aset berbasis dolar AS bisa khawatir terkena sanksi. Di sisi lain, AS juga menghadapi ketakutan timbal balik, yakni kehilangan akses terhadap modal asing atau turunnya permintaan atas aset-aset AS.

Baca Juga: Perang Dingin Iran: 7 Momen Puncak Panaskan Hubungan AS-Iran

Kekhawatiran ini menjadi semakin penting mengingat peran besar Eropa dalam membiayai pemerintah AS.

Menurut Citi, investor Eropa menyumbang sekitar 80% dari pembelian asing terhadap obligasi pemerintah AS (US Treasuries) pada periode April hingga November 2025.

Dalio menambahkan bahwa tanda-tanda perang modal sudah mulai terlihat dalam bentuk kontrol modal dan pembatasan arus dana di berbagai negara.

Dolar dan Obligasi AS Terancam?

Ini bukan kali pertama Dalio memperingatkan risiko terhadap sistem moneter global. Tahun lalu, ia menilai bahwa jika Federal Reserve melemah secara politik dan membiarkan inflasi tinggi, maka obligasi dan dolar AS bisa menjadi penyimpan nilai yang tidak efektif.

Dalam skenario tersebut, tatanan moneter global yang selama ini dikenal bisa mengalami keretakan serius.

Aset Aman Versi Ray Dalio: Emas

Di tengah kondisi yang makin tidak pasti, Dalio kembali menegaskan aset lindung nilai favoritnya: emas.

Ia menyebut banyak investor belum memiliki porsi emas yang memadai dalam portofolio mereka.

“Emas tidak berubah dari hari ke hari,” ujar Dalio, menekankan bahwa logam mulia itu berfungsi sebagai pelindung portofolio saat kondisi memburuk.

Menurutnya, emas memiliki karakter unik sebagai diversifier. Ketika situasi ekonomi dan geopolitik memburuk, emas cenderung tampil lebih baik dibanding banyak aset lain.

Emas selama ini dipandang sebagai aset safe haven karena tidak bisa dicetak seperti uang fiat dan tidak terikat pada satu mata uang atau satu negara. Dalam periode ketidakpastian, investor biasanya berbondong-bondong masuk ke emas.

Baca Juga: Harta Kekayaan Kevin Warsh: Calon Ketua The Fed Pilihan Trump

Meski sempat terkoreksi, harga emas dilaporkan telah naik lebih dari 70% dalam 12 bulan terakhir.

Properti Tetap Jadi Aset Jangka Panjang

Jika emas dianggap sebagai pelindung saat krisis, Dalio dan banyak investor besar menilai real estat sebagai permainan jangka panjang.

Presiden Trump sendiri membangun kekayaannya dari bisnis properti. Secara historis, nilai properti dan pendapatan sewa cenderung naik seiring inflasi, menjadikannya alat lindung nilai yang relatif kuat.

Keunggulan properti adalah kemampuannya menghasilkan arus kas, bahkan saat pasar saham sedang lesu. Properti berkualitas masih bisa memberikan pendapatan sewa yang relatif stabil.

Diversifikasi Makin Penting

Dalio kembali menekankan pentingnya diversifikasi. Saat ini, sekitar 40% bobot indeks S&P 500 terkonsentrasi pada 10 saham terbesar, sementara valuasi pasar berada di level tinggi seperti era dot-com.

Dalam kondisi seperti ini, banyak investor mulai melirik aset alternatif, seperti:

  • Emas dan logam mulia
  • Properti
  • Private equity
  • Aset koleksi dan instrumen non-tradisional

Tonton: IHSG Anjlok 4,73% Sepekan, Tekanan Global dan Outlook Moody’s Membayangi Pasar

Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset dan memperkuat ketahanan portofolio terhadap guncangan ekonomi maupun geopolitik.

Selanjutnya: Ini Kata Asosiasi DPLK Soal Proyeksi Aset Dana Pensiun Tumbuh 10%–12% pada 2026

Menarik Dibaca: 7 Manfaat Sukun yang Tersembunyi untuk Pencernaan hingga Kekebalan Tubuh




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×