Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham-saham Asia berkembang bergerak stabil di dekat level tertinggi lima tahun pada Selasa (6/1/2026), ditopang oleh rekor baru di pasar Taiwan, Singapura, dan Indonesia.
Investor mengabaikan gejolak politik di Venezuela dan lebih fokus pada data makroekonomi Amerika Serikat serta lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Indeks MSCI untuk saham Asia emerging naik 1,1% ke posisi tertinggi sejak pertengahan Februari 2021.
Baca Juga: PBB Menilai Aksi Militer AS di Venezuela Menjadikan Dunia Tidak Aman
Sementara itu, indeks MSCI global emerging market dan indeks terluas saham Asia-Pasifik termasuk Jepang sama-sama mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Pelaku pasar memilih mengesampingkan dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, termasuk potensi implikasinya terhadap harga minyak.
Perhatian investor justru tertuju pada kontraksi tajam aktivitas manufaktur AS bulan lalu, pernyataan dovish pejabat Federal Reserve, serta derasnya aliran dana ke aset-aset terkait kecerdasan buatan.
Kondisi tersebut memicu reli aset berisiko (risk-on rally) di Wall Street pada perdagangan sebelumnya, yang kemudian menular ke pasar Asia.
Data pasar swap menunjukkan probabilitas hampir 84% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari.
Baca Juga: Machado Nyatakan Siap Pulang ke Venezuela, Oposisi Klaim Siap Menang Pemilu Bebas
Sementara peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret diperkirakan sekitar 39%.
“Pasar secara umum tampaknya mengalihkan fokus dari isu Amerika Latin ke data ekonomi AS dan kecepatan pelonggaran kebijakan moneter The Fed,” tulis analis Maybank dalam catatannya.
Di kawasan Asia, indeks saham berbasis teknologi Taiwan melonjak 1,6% dan ditutup di level rekor 30.576,30. Namun, dolar Taiwan memangkas penguatan awal dan diperdagangkan relatif stabil.
Bursa Seoul juga berbalik menguat, naik 1,5% dan mencatat rekor penutupan. Saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing naik 0,6% dan 4,3%, seiring sentimen positif di sektor semikonduktor.
Baca Juga: Produsen Labubu Pop Mart Perluas Rantai Pasok Global, Bangun Produksi di Indonesia
Di Asia Tenggara, indeks FTSE Straits Times Singapura menguat 1,3%, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia naik 0,3%. Keduanya berada hanya beberapa poin di bawah level tertinggi sepanjang masa.
Pasar saham Filipina turut menguat hingga 1,9%, menyentuh level tertinggi sejak 19 September 2025.
Saham Jollibee Foods Corp menjadi salah satu penopang utama setelah perusahaan restoran asal Filipina tersebut mengumumkan rencana pencatatan bisnis internasionalnya di Amerika Serikat. Saham Jollibee sempat melonjak hingga 14,5%.
Di pasar mata uang, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS yang cenderung stabil. Ringgit Malaysia menguat 0,6%, sementara dolar Singapura naik 0,3% ke level tertinggi sejak 18 September 2025.
Baca Juga: Presiden Korsel Lee Jae Myung Berswafoto dengan Xi Jinping Menggunakan Ponsel Xiaomi
Won Korea Selatan memangkas pelemahan sebelumnya dan diperdagangkan mendatar, setelah otoritas setempat berjanji menstabilkan mata uang dengan mengatasi ketidakseimbangan struktural di pasar valuta asing.












