kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.973   -20,00   -0,12%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%

Bursa Australia Catat Penurunan Terdalam Sejak Desember 2025 pada Selasa (20/1)


Selasa, 20 Januari 2026 / 14:10 WIB
Bursa Australia Catat Penurunan Terdalam Sejak Desember 2025 pada Selasa (20/1)
ILUSTRASI. Australian Securities Exchange (Dok/ASX)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Buras saham Australia mencatat penurunan terdalam sejak pertengahan Desember pada perdagangan Selasa (20/1/2026), tertekan oleh pelemahan saham sektor keuangan dan pertambangan di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga serta tekanan harga bijih besi.

Melansir Reuters, Indeks S&P/ASX 200 ditutup melemah 0,7% ke level 8.815,90, menandai penurunan harian terdalam sejak 15 Desember 2025.

Sektor keuangan memimpin pelemahan dengan penurunan 1,1%. Empat bank besar Australia masing-masing terkoreksi antara 0,9% hingga 1,8%.

Baca Juga: China Akan Luncurkan Strategi Baru untuk Mendorong Konsumsi Lima Tahun ke Depan

Analis senior ekuitas Shaw and Partners Philip Pepe mengatakan, sektor perbankan mulai kehilangan momentum seiring rotasi investor keluar dari saham finansial.

Menurutnya, pelemahan harga reasuransi menekan premi domestik, sementara meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga membuat investor melepas saham bank setelah sebelumnya diuntungkan oleh spekulasi pemangkasan suku bunga.

Pelaku pasar kini menanti data ketenagakerjaan Australia yang akan dirilis Kamis, serta data inflasi kuartal IV-2025 pekan depan, yang dipandang krusial bagi arah kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA).

RBA dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 3 Februari, dengan pasar memperkirakan peluang 30% kenaikan suku bunga, berdasarkan data LSEG.

Di sektor pertambangan, indeks tambang turun 1,1%. Saham BHP Group merosot 2% ke level terendah dalam sepekan, setelah perusahaan mengisyaratkan negosiasi yang berlarut-larut dengan pembeli bijih besi terbesar di China menekan harga.

Baca Juga: Presiden Iran: Serangan terhadap Ayatollah Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang

Saham Rio Tinto dan Fortescue Metals Group masing-masing turun 2% dan 0,6%, menjelang rilis laporan produksi kuartalan pada Rabu dan Kamis.

Namun, pelemahan pasar tertahan oleh penguatan saham emiten emas yang mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan aset lindung nilai.

Investor beralih ke emas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif terhadap sejumlah negara Eropa.

Indeks saham penambang emas naik 0,4% dan mencetak level tertinggi sepanjang masa. Saham Ausgold dan Aurum Resources memimpin penguatan dengan lonjakan masing-masing 6,3% dan 5,6%.

Sementara itu, saham teknologi naik 0,9%, sedangkan indeks utilitas menguat 1,6%, mencatat kenaikan intraday tertajam dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: Nasib Greenland: Trump Ungkap Panggilan Telepon dengan NATO Soal Keamanan Global

Di kawasan regional, indeks acuan S&P/NZX 50 Selandia Baru ditutup melemah tipis 0,05% ke level 13.573,93, terendah dalam tiga pekan.

Pasar menanti rilis data inflasi kuartalan domestik pada Kamis, dengan pelaku pasar hampir tidak melihat peluang kenaikan suku bunga acuan 2,25% pada pertemuan bank sentral 18 Februari mendatang.

Selanjutnya: InJourney Genap 4 Tahun, Bidik Kontribusi PDB hingga 6% pada 2029

Menarik Dibaca: Hindari Peretasan, Amankan WhatsApp dengan Fitur Rahasia Ini




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×